<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434</id><updated>2012-02-13T07:32:45.227-08:00</updated><category term='Biografi dan Sirah'/><title type='text'>yaaa Nafsul Muthmainah</title><subtitle type='html'>wahai jiwa jiwa yang tenang
yang mengembara di padang gersang
aku dan kamu adalah saudara
dan saudara saling mengingatkan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-3964950069560398195</id><published>2009-05-08T22:42:00.000-07:00</published><updated>2009-05-08T22:45:48.630-07:00</updated><title type='text'>Masuk Surga Tanpa Hisab dan Azab (1)</title><content type='html'>posted in Aqidah &amp; Manhaj |&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Al-Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan kita kali ini secara umum masih termasuk ke dalam keutamaan Tauhid. Hanya saja kita khususkan keutamaan ini karena ini merupakan keutamaan yang Allah khususkan bagi para muwahiddun, orang benar-benar merealisasikan tauhidnya dengan sempurna. Keutamaan itu adalah dimasukkannya dia ke dalam surga tanpa harus dihisab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits yang cukup panjang, diriwayatkan oleh Al-Imam Al Bukhari dan Al-Imam Muslim di dalam shahih keduanya dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu. Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah dipertunjukkan kepadaku umat-umat. Aku melihat seorang nabi, bersamanya beberapa orang (sejumlah sepuluh atau kurang) dan seorang nabi yang bersamanya satu dan dua orang, serta seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku suatu jumlah yang banyak. Aku pun mengira bahwa mereka itu adalah umatku, tetapi dikatakan kepadaku, “Ini adalah Musa bersama kaumnya.” Lalu tiba-tiba aku melihat lagi suatu jumlah besar pula, maka dikatakan kepadaku, “Ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang mereka itu masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bangkitlah beliau dan segera memasuki rumahnya. Maka orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu. Ada di antara mereka yang berkata, “Mungkin saja mereka itu yang menjadi sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ada lagi yang berkata, “Mungkin saja mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam, sehingga tidak pernah mereka berbuat syirik sedikitpun kepada Allah.” Dan mereka menyebutkan lagi beberapa perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, mereka memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya dikay, tidak melakukan tathayyur dan mereka pun bertawakkal kepada Rabb mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu berdirilah ‘Ukasyah bin Mihshan dan berkata, “Mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab,&lt;br /&gt;“Kamu termasuk golongan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian berdirilah seorang yang lain dan berkata, “Mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab, “Kamu sudah kedahuluan ‘Ukasyah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada umatnya bahwa orang-orang yang masuk surga tanda melalui hisab maupun azab adalah mereka yang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta dikay, tidak melakukan tathayyur dan mereka pun bertawakkal kepada Rabb mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruqyah adalah mengobati suatu penyakit dengan cara membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;Mayoritas Manusia Mengingkari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini juga menjadi dalil bahwa yang selamat dari semua umat jumlahnya sedikit. Mayoritas dari mereka lebih cenderung mengikuti tabiat manusia yaitu pengingkaran terhadap para Rasul sehingga mereka binasa. Di dalam Al-Quran, Allah berfirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا وَجَدْنَا لأكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ (١٠٢)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (Al-A’raf: 102).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ سِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ (٤٢)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)’.” (Ar-Ruum: 42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, “Orang-orang yang selamat dari segala umat jumlahnya sedikit. Sedangkan mayoritas dari mereka dikuasai oleh tabiat manusia. Mereka bermaksiat kepada utusan Allah dan mereka binasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang selamat walaupun jumlahnya sedikit, mereka disebut assawadu a’dhom. Karena mereka besar nilainya di sisi Allah walaupun jumlah mereka sedikit. Maka setiap muslim hendaknya berhati-hati dengan jumlah yang banyak. Banyak orang yang tertipu dengan jumlah yang mayoritas. Sampai-sampai sebagian orang yang mengaku berilmu mereka meyakini dalam agama mereka apa yangdiyakini oleh orang-orang bodoh dan sesat. Kemudian mereka tidak menoleh kepada apa yang diucapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.”&lt;br /&gt;Kebenaran Tidak Disandarkan kepada Jumlah Mayoritas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits ini diceritakan juga bahwa ada nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya. Maksudnya nabi tersebut ketika Allah utus kepada sebuah kaum, beliau ‘alaihissalam tidak memiliki seorang pengikut pun. Dari sini bisa kita ambil pelajaran bahwa ini adalah bantahan bagi orang-orang yang mengukur kebenaran dengan jumlah yang banyak, melalui sistem demokrasi misalnya. Kebenaran adalah apa yang datang dari sisi Allah ta’ala, sebagaimana firmannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (١٤٧)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebenaran itu datang dari sisi Rabbmu, maka janganlah engkau termasuk ke dalam orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain ayat Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikutilah oleh kalian apa yang diturunkan oleh Allah.” (Al-Baqarah: 170)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al-Quran Allah ta’ala malah melarang untuk mengikuti kebanyakan orang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika engkau mentaati mayoritas orang dimuka bumi, mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (Al-An’am: 116)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah Allah memerintahkan untuk mengikuti suara mayoritas. Yang Allah perintahkan adalah mengikuti kebenaran yang datang dari Allah ta’ala. (bersambung ke bagian kedua insya Allah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Buletin Jum’at Al Muslim, diterbitkan oleh Panitia Kajian Islam Yogyakarta; http://ahlussunnah-bangka.com/2009/04/24/masuk-surga-tanpa-hisab-dan-azab-1/)&lt;br /&gt;dari:http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/aqidah-manhaj/masuk-surga-tanpa-hisab-dan-azab-1/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-3964950069560398195?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/3964950069560398195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=3964950069560398195' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/3964950069560398195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/3964950069560398195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2009/05/masuk-surga-tanpa-hisab-dan-azab-1.html' title='Masuk Surga Tanpa Hisab dan Azab (1)'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-4781891718517800782</id><published>2009-04-16T03:15:00.000-07:00</published><updated>2009-04-16T03:17:50.369-07:00</updated><title type='text'>Mengirim Pahala Bacaan Alqur’an untuk Mayyit</title><content type='html'>Oleh : Abu Salma Ibnu Rosyid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang sholih merupakan dambaan setiap orang tua, anak yang sholih akan senantiasa menginginkan kebahagian bagi orang tuanya. Anak  yang sholih tentunya akan senantiasa memberikan yang terbaik kepada kedua orang tuanya baik semasa hidup mereka atau setelah meninggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita yang telah kehilangan orang tua pasti merasa sangat kurang bakti dan sikap terimakasih kepada mereka, namun akankah kita berbakti dan beramal untuk mereka dengan cara-cara yang tidak disyareatkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam ? Tentu saja tidak. Untuk orang tua yang kita sayangi dan yang kita inginkankebahagiaannya kita akan berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk amalan yang banyak dilakukan kaum muslimin ketika mereka mewujudkan cinta kasihnya kepada orang yang telah meninggal baik itu orang tua atau selainnya adalah membaca alqur’an dan pahalanya dikirimkan kepada mereka. Bagaimana hukum permasalahan ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita simak pembahasan yang berikut ini .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membaca !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim Pahala Bacaan Al-Qur’an untuk Mayyit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Asy-Syaikh Muqbil Al Wadi’i -Rahimahullah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 35; Apabila dibacakan Al Qur’an, apakah pahalanya sampai kepada si mayyit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab; Tidak sampai, dan ini adalah pendapat Al Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala, “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (Qs. An-Najm (39);53). Dan juga hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari hadist Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda, “Apabila anak adam meninggal dunia terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara; sedekah jariyah, atau anak yang shalih yang mendoakannya, atau ilmu yang bermanfaat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila anak adam meninggal dunia terputuslah amalannya, beliau tidak katakan amalan orang lain (melainkan amalannya –pentj), orang yang membolehkannya bersandar kepada alasan ini, dan sebenarnya tidak ada dalil yang tegas untuknya, bahkan dalil yang tegas adalah bahwa ketika dua anak perempuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meninggal dunia, dan Utsman bin Madz’un, Hamzah, serta beberapa orang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memerintahkan untuk mengirim bacaan untuk mereka? Atau beliau tidak memerintahkannya? Beliau tidak memerintahkan untuk membacakan Al Qur’an untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia (sekarang) lebih memperhatikan bid’ah dan meninggalkan yang wajib, saya tidak katakan mereka meninggalkan sunnah, bahkan mereka meninggalkan yang wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan kepada mereka, orang-orang yang lalai; mana yang harus didahulukan membayarkan hutang-hutang si mayyit atau membacakan untuknya Al Qur’an?! (Akan tetapi) yang mereka dahulukan adalah membaca Al Qur’an. Mana yang lebih utama juga membayarkan hutang-hutangnya atau membacakan untuknya Al Qur’an?! Mereka mengutamakan membacakan Al Qur’an. Kaum muslimin telah mengambil ajaran Islam melalui taklid, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar” (Qs. Al Baqarah; 111).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana (riwayat yang menerangkan kalau) Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu membacakan Al Qur’an untuk Fathimah Radhiyallahu ‘Anha disaat Fathimah Radhiyallahu ‘Anha wafat, mana (riwayat) tersebut dengan sanad yang shahih?! Mana (riwayat) anak-anaknya Abu Bakar (pernah) membacakan Al Qur’an kepada Abu Bakar As-Shiddiq?! Yang penting saudara-saudaraku fillah, sekalian kesengsaraan dan kerugian ada pada selain jalan Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seseorang mewakafkan tanah demi bacaan Al Qur’an (agar dibacakan untuknya Al Qur’an -pentj) maka wakaf tersebut batil (tidak sah -pentj) dan dibagi-bagikan di antara ahli warisnya kecuali kalau para ahli waris ingin agar tanah tersebut tetap untuk kemaslahatan seperti untuk madrasah tahfidz Al Qur’an atau untuk sumur (umum) atau yang lainnya dari maslahat-maslahat yang bermanfaat, maka yang demikian itu tidak mengapa. Wallahul musta’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijabatus Sa’il no: 35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber1 : http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=35&lt;br /&gt;Sumber2 :&lt;br /&gt;http://abasalma.wordpress.com/2009/04/15/mengirim-pahala-bacaan-al-quran-untuk-mayyit/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-4781891718517800782?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/4781891718517800782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=4781891718517800782' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/4781891718517800782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/4781891718517800782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2009/04/mengirim-pahala-bacaan-alquran-untuk.html' title='Mengirim Pahala Bacaan Alqur’an untuk Mayyit'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-5237311122930442096</id><published>2009-04-13T07:27:00.000-07:00</published><updated>2009-04-13T07:34:23.758-07:00</updated><title type='text'>Sifat Mandi Junub Rasululloh</title><content type='html'>Banyak dari kita barangkali yang tidak tahu bagaimana tata cara Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam mandi junub/janabah. Karena hal ini sangat jarang dipelajari oleh kaum muslimin. Untuk itu adalah sangat perlu kita mengingat dan mempelajari untuk kemudian diamalkan tentang tata cara mandi junub Rasululloh agar kita benar-benar meneladani beliau dalam segala aspek kehidupan, tidak terkecuali dalam masalah mandi junub ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin orang akan berkata, “Wah, mandi aja kok harus mencontoh Rasululloh?!, kan tinggal jebar-jebur saja…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jawabnya, “ya, tidak hanya dalam masalah ibadah (sholat, puasa dan haji) saja yang perlu kita contoh dari Rasululloh, akan tetapi kita harus meneladani/mencontoh beliau dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman, “Sungguh telah ada pada diri Rasululloh itu teladan yang baik.” (QS. Al-Ahzab:21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits yang menceritakan bagaimana tata cara mandi junubnya Rasululloh itu ada beberapa riwayat, diantaranya adalah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: - كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - إِذَا اِغْتَسَلَ مِنْ اَلْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ, ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ, فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ, ثُمَّ يَتَوَضَّأُ, ثُمَّ يَأْخُذُ اَلْمَاءَ, فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ اَلشَّعْرِ, ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ, ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ, ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم ٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Dari Aisyah Radhiallohu ‘anha (Istri Rasululloh) ia berkata, “Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam apa bila mandi janabah/junub, beliau memulainya dengan membasuh kedua tangannya, beliau mendahulukan membasuh yang kanan kemudian yang kiri, lalu beliau membasuh kemaluan/farj, kemudian berwudhu’, kemudian mengambil air dan memasukkan jari jemarinya ke pangkal-pangkal rambutnya, kemudian beliau menyiram kepalanya dengan tiga kali siraman, kemudian beliau membasahi/mengguyur seluruh tubuhnya, dan terakhir beliau membasuh kedua kakinya.” (Muttafaqun Alaihi/Hadits ini disepakati keshahihannya) [Lihat Shohih Bukhari: 262 dan Shohih Muslim: 316]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini senada dengan hadits yang diriwayatkan oleh Maimunah (Istri Rasululloh),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى فَرْجِهِ, فَغَسَلَهُ بِشِمَالِهِ, ثُمَّ ضَرَبَ بِهَا اَلْأَرْضَ -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَفِي رِوَايَةٍ: - فَمَسَحَهَا بِالتُّرَابِ -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “….Kemudian beliau mendahulukan membasuh kemaluan/farj, membasuhnya dengan tangan kiri, lalu mengosok kedua tangannya ke tanah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di akhir hadits yang diriwayatkan oleh Maimunah ini, ada lafadz,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ أَتَيْتُهُ بِالْمِنْدِيلِ - فَرَدَّهُ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Kemudian aku (Maimunah) membawakan handuk untuknya, tapi beliau menolaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua hadits (Aisyah dan Maimunah) yang kita perhatikan ini, ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Seperti inilah sifat mandi junub Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mulailah mandi dengan membasuh kedua tangan (dimulai dengan tangan kanan), karena kedua tangan itu merupakan anggota tubuh yang paling digunakan untuk mengambil air dan membasuh anggota tubuh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mulailah membasuh kemaluan dengan tangan kiri serta menyiramkan air dengan tangan kanan. Lalu mengosokkan kedua tangan tersebut di tanah/dinding.[1] Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Maimunah diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kemudian berwudhu’lah sebagaimana wudhu saat hendak melakukan sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Setelah itu, sampaikan air ke pangkal-pangkal rambut dengan jari jemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. lalu, siramlah seluruh kepala dengan air sebanyak tiga kali. Sehingga basahlah bagian atas dari rambut kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kemudian, basuhlah seluruh tubuh dengan siraman air sekali saja. Hal ini sebagaimana hadits Aisyah diatas. Adapun dalam hadits tersebut dan hadits-hadits lain yang menceritakan mandi junub Nabi, tidak ada keterangan menyiramkan air ke seluruh tubuh dengan berulang-ulang. Yang ada hanya menyiramkan air ke kepala dengan 3 kali siraman. Dan inilah yang benar –Insya Alloh-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Setelah itu, Membasuh kedua kaki sebagai akhir dari mandi junub. Dan dalam sebagian riwayat dari Maimunah, ada tambahan kalimat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian Rasululloh bergeser dari tempatnya lalu membasuh kedua kakinya.” Maka sebelum membasuh kedua kaki, seharusnya kita bergeser dari tempat berdiri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Tidak disukai mengeringkan badan dengan haduk atau sejenisnya, sebagaimana tidak disukai juga mengeringkan bekas-bekas air wudhu’. Karena air-air yang tersisa di badan itu adalah bekas-bekas dari ibadah. Sebagaimana dalam keterangan hadits diatas yang menceritakan bahwa Rasululloh menolak diberikan handuk untuk mengeringkan bekas-bekas mandinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah tata cara Mandi Junub Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam berdasarkan hadits-hadits shohih. Maka apa yang datang dari Rasululloh, Ambillah..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disarikan dari kitab: Taudhihul Ahkam, Abdullah al-Bassam, jilid 1, dan Buluguhul Maram, Ibnu Hajar Al-Asqalani]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Adapun hikmah menggosokkan kedua tangan tersebut ke tanah adalah agar tidak ada najis/kotoran atau Mani yang tersisa. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Taudhihul Ahkam Karya Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam, Hal. 396&lt;br /&gt;&lt;a href="http://alatsar.wordpress.com/2009/04/07/sifat-mandi-junub-rasululloh/"&gt;http://alatsar.wordpress.com/2009/04/07/sifat-mandi-junub-rasululloh/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-5237311122930442096?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/5237311122930442096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=5237311122930442096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/5237311122930442096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/5237311122930442096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2009/04/sifat-mandi-junub-rasululloh.html' title='Sifat Mandi Junub Rasululloh'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-9027900855677300011</id><published>2009-03-18T07:17:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T07:32:17.208-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi dan Sirah'/><title type='text'>Ummu Salamah Wanita Jelita dalam Hidup Rasul yang Mulia</title><content type='html'>Penulis : Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan dan kemuliaan berpadu dalam dirinya. Cinta, kesetiaan dan ketaatannya pada pendamping hidupnya membawanya untuk memperoleh sebentuk doa. Doa yang berbuah keindahan hidup tiada tara, bersisian dengan hamba Rabb-nya yang paling mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindun bintu Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah Al-Qurasyiyyah Al-Makhzumiyyah radhiyallahu ‘anha. Dia lebih dikenal dengan kunyahnya, Ummu Salamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seorang istri yang penuh cinta bagi suaminya, Abu Salamah ‘Abdullah bin ‘Abdil Asad bin Hilal bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah bin Ka’b Al-Makhzumi radhiyallahu ‘anhu. Dalam beratnya cobaan dan gangguan, mereka meninggalkan negeri Makkah menuju Habasyah untuk berhijrah, membawa keimanan. Di negeri inilah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha melahirkan anak-anaknya, Salamah, ‘Umar, Durrah dan Zainab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala terdengar kabar tentang Islamnya penduduk Makkah, mereka pun kembali bersama kaum muslimin yang lain. Namun, ternyata semua itu berita hampa semata, hingga mereka pun harus beranjak hijrah untuk kedua kalinya menuju Madinah. Di sanalah mereka membangun hidup bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa lama di Madinah, seruan perang Badr bergema. Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu masuk dalam barisan para shahabat yang terjun dalam kancah pertempuran. Begitu pula ketika perang Uhud berkobar, Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu ada di sana, hingga mendapatkan luka-luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berdampingan dengan kekasihnya, karena Abu Salamah harus kembali ke hadapan Rabb-nya akibat luka-luka yang dideritanya. Ummu Salamah melepas kepergian Abu Salamah pada bulan Jumadits Tsaniyah tahun keempat Hijriyah dengan pilu. Dia mengatakan, “Siapakah yang lebih baik bagiku daripada Abu Salamah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang kali dia berucap demikian, hingga akhirnya diucapkannya doa yang pernah diajarkan oleh kekasihnya, Abu Salamah, jauh hari sebelum Abu Salamah tiada. Kala itu, Ummu Salamah berkata kepada suaminya, “Aku telah mendengar bahwa seorang wanita yang suaminya tiada, dan suaminya itu termasuk ahli surga, kemudian dia tidak menikah lagi sepeninggalnya, Allah mengumpulkan mereka berdua di surga. Mari kita saling berjanji agar engkau tidak menikah lagi sepeninggalku dan aku tidak akan menikah lagi sepeninggalmu.” Mendengar perkataan istrinya, Abu Salamah mengatakan, “Apakah engkau mau taat kepadaku?” Kata Ummu Salamah, “Ya.” Abu Salamah berkata lagi, “Kalau aku kelak tiada, menikahlah! Ya Allah, berikan pada Ummu Salamah sepeninggalku nanti seseorang yang lebih baik dariku, yang tak akan membuatnya berduka dan tak akan menyakitinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Ummu Salamah pun telah melalui masa ‘iddahnya sepeninggal Abu Salamah. Datang seorang yang paling mulia setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu untuk meminang Ummu Salamah. Namun Ummu Salamah menolaknya. Setelah itu, datang pula Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, menawarkan pinangan pula ke hadapan Ummu Salamah. Kembali Ummu Salamah menyatakan penolakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak menganugerahkan sesuatu yang lebih besar daripada itu semua. Datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, membuka pintu baginya untuk memasuki rumah tangga nubuwwah. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menjawab tawaran itu, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita yang sudah cukup berumur, dan aku memiliki anak-anak yatim, lagi pula aku wanita yang sangat pencemburu.” Dari balik tabir, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menanggapi, “Adapun masalah umur, sesungguhnya aku lebih tua darimu. Adapun anak-anak, maka Allah akan mencukupinya. Sedangkan kecemburuanmu, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menghilangkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada lagi yang memberatkan langkah Ummu Salamah untuk menyambut uluran tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bulan Syawwal tahun keempat setelah hijrah adalah saat-saat yang indah bagi Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, mengawali hidupnya di samping seorang yang paling mulia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang kecantikan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha sempat meletupkan kecemburuan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika itu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sangat bersedih. Dia menahan diri sampai memiliki kesempatan melihat Ummu Salamah. Tatkala datang kesempatan itu, ‘Aisyah melihat kecantikan Ummu Salamah berkali lipat daripada gambaran yang sampai padanya. Dia beritahukan hal itu kepada Hafshah radhiyallahu ‘anha. Hafshah pun menjawab, “Tidak, demi Allah. Itu tidak lain hanya karena kecemburuanmu saja. Dia tidaklah seperti yang kaukatakan, namun dia memang cantik.” ‘Aisyah pun mengisahkan, “Setelah itu, aku sempat melihatnya lagi dan dia memang seperti yang dikatakan oleh Hafshah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha memulai rangkaian kehidupannya di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak rentetan peristiwa dilaluinya bersama beliau. Satu dialaminya dalam Perjanjian Hudaibiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, pada bulan Dzulqa’dah tahun keenam setelah hijrah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersama seribu empat ratus orang muslimin ingin menunaikan ‘umrah di Makkah sembari melihat kembali tanah air mereka yang sekian lama ditinggalkan. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha turut menyertai perjalanan beliau ini. Namun setiba beliau dan para shahabat di Dzul Hulaifah untuk berihram dan memberi tanda hewan sembelihan, kaum musyrikin Quraisy menghalangi kaum muslimin. Dari peristiwa ini tercetuslah perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian itu di antaranya berisi larangan bagi kaum muslimin memasuki Makkah hingga tahun depan. Betapa kecewanya para shahabat saat itu, karena mereka urung memasuki Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menyelesaikan penulisan perjanjian itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memerintahkan kepada para shahabat, “Bangkitlah, sembelihlah hewan kalian, kemudian bercukurlah!” Namun tak satu pun dari mereka yang bangkit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengulangi perintahnya hingga ketiga kalinya, namun tetap tak ada satu pun yang beranjak. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dan menceritakan apa yang terjadi. Ummu Salamah pun memberikan gagasan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah engkau ingin agar mereka melakukannya? Bangkitlah, jangan berbicara pada siapa pun hingga engkau menyembelih hewan dan memanggil seseorang untuk mencukur rambutmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri, kemudian segera melaksanakan usulan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Seketika itu juga, para shahabat yang melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallammenyembelih hewannya dan menyuruh seseorang untuk mencukur rambutnya serta merta bangkit untuk memotong hewan sembelihan mereka dan saling mencukur rambut, hingga seakan-akan mereka akan saling membunuh karena riuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak bersama Abu Salamah radhiallahu ‘anhu, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha meraup banyak ilmu. Terlebih lagi setelah berada dalam naungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, di bawah bimbingan nubuwwah, Ummu Salamah mendulang ilmu. Juga dari putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Fathimah radhiyallahu ‘anha. Ummu Salamah menyampaikan apa yang ada pada dirinya hingga bertaburanlah riwayat dari dirinya. Tercatat deretan panjang nama-nama ulama besar dari generasi pendahulu yang mengambil ilmu darinya. Dia termasuk fuqaha dari kalangan shahabiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha telah melalui rentang panjang masa hidupnya dengan menebarkan banyak faidah. Masa-masa kekhalifahan pun dia saksikan hingga masa pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah. Pada masa inilah terjadi pembunuhan cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. Ummu Salamah sangat berduka mendengar berita itu. Dia benar-benar merasakan kepiluan. Tak lama setelah itu, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha kembali menghadap Rabb-nya. Tergurat peristiwa itu pada tahun keenam puluh satu setelah hijrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkenang selalu kesetiaan yang pernah dia berikan bagi pendamping hidupnya. Terngiang selalu sebutan namanya dalam kitab-kitab besar para ulama. Ummu Salamah, semoga Allah meridhainya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber bacaan :&lt;br /&gt;1 Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, hal. 150-152&lt;br /&gt;2 Shahihus Sirah an-Nabawiyah, Ibrahim Al-‘Aly, hal. 323&lt;br /&gt;3 Siyar A’lamin Nubala’, Al-Imam Adz-Dzahabi, hal. 202-210&lt;br /&gt;4 Tahdzibul Kamal, Al-Imam Al-Mizzi, hal. 317-319&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=119&lt;br /&gt;http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/biografi-sirah/ummu-salamah-wanita-jelita-dalam-hidup-rasul-yang-mulia/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-9027900855677300011?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/9027900855677300011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=9027900855677300011' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/9027900855677300011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/9027900855677300011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2009/03/ummu-salamah-wanita-jelita-dalam-hidup.html' title='Ummu Salamah Wanita Jelita dalam Hidup Rasul yang Mulia'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-1872499161124241180</id><published>2009-02-17T02:19:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T02:20:07.185-08:00</updated><title type='text'>Tanya Jawab: Keutamaan Sholat Dhuha</title><content type='html'>February 16, 2009 — pakisbintaro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Assalamu’alaykum warahmatuLlohi wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz yang mudah2n di Rahmati oleh Allah Ta’ala&lt;br /&gt;Ana mau tanya kedudukan hadits di bawah ini :&lt;br /&gt;“Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab ad-dhuha ( pintu dhuha ) dan pada hari kiamat nanti ada orang yang memanggil,” Dimana orang yang senantiasa mengerjakan sholat dhuha ? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah.” ( H.R. at-Tabrani).&lt;br /&gt;Jazakallohu khoir&lt;br /&gt;AbuKholiyl&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas dikeluarkan oleh Ath-Thobarany dalam Al-Kabir dan Al-Ausath dan Al-Khatib dalam Al-Muttafiq wa Al-Muftariq, demikian keterangan As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al-Mantsur. Syaikh Al-Albany menambahkan bahwa hadits di atas dikeluarkan juga oleh Al-Hakim dalam Juz beliau tentang sholat Dhuha -beliau nukil dari Ibnul Qayyim dari Zadul Ma’ad-, Abu Hafsh Ash-Shoirafy, Ibnu Laal dan Nashr Al-Maqdasy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Al-Haitsamy dalam Majma’ Az-Zawa’id, “…Dalam sanadnya ada Sulaiman bin Daud Al-Yamamy dan ia adalah matruk (ditinggalkan haditsnya).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas divonis dho’if jiddan (sangat lemah) oleh Syaikh Al-Albany sembari menambahkan illah (cacat) lain yaitu ada an’anah Yahya bin Abi Katsir, seorang mudallis yang tidak menjelaskan riwayatnya dengan lafazh mendengar. Baca Silsilah Dha’ifah no. 392 dan 5065.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam&lt;br /&gt;diambil dari &lt;a href="http://pakisbintaro.wordpress.com/2009/02/16/tanya-jawab-keutamaan-sholat-dhuha/"&gt;http://pakisbintaro.wordpress.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-1872499161124241180?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/1872499161124241180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=1872499161124241180' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/1872499161124241180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/1872499161124241180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2009/02/tanya-jawab-keutamaan-sholat-dhuha.html' title='Tanya Jawab: Keutamaan Sholat Dhuha'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-1371391962692076383</id><published>2009-02-17T02:15:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T02:18:13.087-08:00</updated><title type='text'>Anjuran Berbuat Perbaikan Dan Peringatan Bahaya Berbuat Kerusakan di Muka Bumi</title><content type='html'>Telah merupakan hal yang dimaklumi dari kaidah agama kita bahwa syari’at Islam ini datang untuk mewujudkan segala mashlahat atau menyempurnakannya, menghilangkan segala madharat atau menguranginya. Hal ini adalah karakteristik Islam yang sangat agung dan penuh dengan keistimewaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjuran untuk berbuat perbaikan dan larangan dari berbuat kerusakan di muka bumi telah ditekankan dalam berbagai ayat, di antaranya adalah firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’râf : 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kalian mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (QS. Asy-Syu’arô` : 151-152)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyeru manusia kepada prinsip ini adalah salah satu tugas para nabi dan rasul. Nabi Sholih ‘alaihissalâm menyeru kaumnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ingatlah olehmu di waktu Dia menjadikan kalian pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagi kalian di bumi. Kalian dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kalian pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kalian merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS. Al-A’râf : 74)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nabi Syu’aib ‘alaihissalâm berkata kepada kaumnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Rabb bagi kalian selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Rabb kalian. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kalian kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi sesudah diperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”.” (QS. Al-A’râf : 85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nabi Musa ‘alaihissalâm berpesan kepada saudaranya Nabi Harun ‘alaihissalâm,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan buatlah perbaikan, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-A’râf : 142)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang-orang sholih di masa Nabi Musa mengingatkan Qârûn,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash : 77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan syari’at kita telah menerangkan bahwa berbuat kerusakan adalah akhlak orang-orang Yahudi, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mereka (orang-orang Yahudi) berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-Mâ`idah : 64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal tersebut juga merupakan akhlak orang-orang munafiqîn,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafiqîn), Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah : 11-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syari’at Islam benar-benar mengutuk dan sangat mencela perbuatan kerusakan di muka bumi, sehingga dijelaskanlah dalam ajarannya berbagai jenis perbuatan kerusakan yang berseberangan dengan nilai-nilai Islam yang mulia nan luhur. Diantara bentuk kerusakan itu adalah menumpahkan darah yang terjaga dan terlindungi -dari kalangan muslimin maupun kafir yang haram untuk dibunuh[1]-,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Mâ`idah : 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash : 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara perbuatan kerusakan ialah mencuri harta manusia, baik milik pribadi maupun milik umum,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara-saudara Yusuf menjawab, “Demi Allah sesungguhnya kalian mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri”.” (QS. Yûsuf :73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghalangi manusia ke jalan Allah termasuk perbuatan kerusakan di muka bumi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kalian berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kalian. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-A’râf : 86)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimpang dari kebenaran setelah mengetahuinya dan mengikuti hawa nafsu juga termasuk perbuatan kerusakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Âli Imrân : 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. Al-Mukminûn : 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ingatlah bahwa Allah Al-‘Azîz Al-Jabbâr telah menegaskan berbagai ancaman bagi siapa yang berbuat kerusakan di muka bumi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka akan beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al-Mâ`idah : 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).” (QS. Ar-Ra’d : 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS. Al-Baqarah : 204-206)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (QS. An-Nahl : 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ketahuilah, bahwa sebab munculnya kerusakan di muka bumi adalah karena perbuatan tangan manusia sendiri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rûm : 41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berpaling dari perintah Allah juga merupakan sebab munculnya kerusakan di tengah manusia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfâl : 73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebaliknya, mengadakan perbaikan dan kemashlahatan di suatu negeri adalah salah sebab tertolaknya bencana dan azab dari negeri tersebut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri karena kezholiman (yang mereka lakukan), sedang penduduknya orang-orang yang mengadakan kemashlahatan (perbaikan).” (QS. Hûd : 117)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketahuilah, bahwa tiada keselamatan bagi segenap hamba kecuali dengan memerangi segala bentuk perbuatan kerusakan, baik itu kerusakan pada keyakinan, kerusakan pemikiran, kerusakan aksi dan tindakan, dan sebagainya. Allah ‘Azzat Hikmatuhu menegaskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Hûd : 116)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash : 83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk kaum muslimin di zaman ini, kami ingatkan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berkata Fir`aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabb-nya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS. Ghôfir : 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan ayat ini dan cermatilah kandungannya secara mendalam, niscaya engkau akan mendapatkan dua pelajaran yang sangat berharga dan amat dibutuhkan di zaman ini. Dua pelajaran tersebut ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu : Mengetahui bagaimana Fir’aun menampilkan dirinya sebagai orang yang anti kerusakan dan memberantas para pelaku kerusakan, padahal Fir’aun sendirilah yang banyak berbuat kerusakan di muka bumi sebagaimana yang telah dimaklumi. Tujuan Fir’aun menampilkan dirinya sedemikian rupa, tentunya telah diketahui, yaitu agar para pengikutnya tetap mempercayainya dan setia kepadanya. Maka jangan heran melihat tingkah Amerika, Australia dan semisalnya yang mengatakan, “Kami memerangi terorisme”, “Kami melindungi dunia dari ancaman terorisme”, padahal mereka sendiri adalah para teroris kelas kakap dan para pembunuh berdarah dingin dengan memakai sejuta slogan yang memukau lagi menipu guna meraih kepentingan-kepentingan bejat mereka. Jangan heran, itu adalah gaya klasik dan lagu lama yang mereka warisi dari nenek moyong mereka; Fir’aun dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua : Perhatikan bagaimana Fir’aun menuduh Nabi Musa ‘alaihissalâm sebagai orang yang menimbulkan kerusakan di muka bumi. Dan ini adalah pelajaran lain bagi kita umat Islam bahwa musuh-musuh agama dari masa dahulu senantiasa mensifatkan orang-orang yang berjalan di atas kebenaran dan istiqomah sesuai dengan tuntunan syari’at sebagai para pembuat kerusakan. Sungguh sangat menyedihkan, karena propaganda musuh-musuh agama sehingga sebagian kaum muslimin tega untuk melecehkan saudaranya yang tekun beribadah sesuai dengan tuntunan Islam yang benar. Dan sangat menyayat hati, karena ulah sebagian orang yang tidak faham hakikat dan tuntunan agama, sehingga kaum muslimin lainnya di berbagai penjuru dunia harus menjadi korban aksi-aksi mereka yang brutal dan tidak bertanggung jawab. Hendaknya seorang muslim –khususnya di masa fitnah- tidak terlalu bergampagan menjatuhkan vonis atau mendiskreditkan muslim yang lainnya kecuali kalau telah nampak secara jelas kesalahannya menurut timbangan Al-Qur`ân dan As-Sunnah. Dan juga tidak pantas seorang muslim terlalu cepat termakan oleh isu-isu yang berkembang dan pemberitaan media massa yang belum tentu bisa dipertanggung-jawabkan, apalagi kalau hal tersebut datangnya dari musuh-musuh Islam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.” (QS. Al-An’âm : 112-113)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallâhul Musta’ân.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Insya Allah akan datang rincian jenis-jenis orang kafir (hal. 81).&lt;br /&gt;diambil dari &lt;a href="http://jihadbukankenistaan.com/jalan-petunjuk/anjuran-untuk-berbuat-perbaikan-dan-peringatan-akan-bahaya-berbuat-kerusakan-di-muka-bumi.html"&gt;http://jihadbukankenistaan.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-1371391962692076383?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/1371391962692076383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=1371391962692076383' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/1371391962692076383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/1371391962692076383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2009/02/anjuran-berbuat-perbaikan-dan.html' title='Anjuran Berbuat Perbaikan Dan Peringatan Bahaya Berbuat Kerusakan di Muka Bumi'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-5871208924346026462</id><published>2009-02-05T08:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T08:32:25.735-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Ummat Islam Selalu Ditindas?</title><content type='html'>Oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji-Nya dan memohon ampunan-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami dan dari kejelekan amalan perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa disesatkan tidak ada yang bisa menunjukinya. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. 3:102)&lt;br /&gt;“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. 4:1)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (QS. 33:70) niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. (QS. 33:71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amma ba’du; Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Abu Daud telah meriwayatkan di dalam kitabnya As-sunan dan juga Al Imam Ahmad di dalam musnadnya dan begitu pula para ulama selain mereka, dengan dua sanad yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwasanya beliau bersabda. “Apabila kalian telah berjual-beli dengan ‘inah dan kalian telah mengambil ekor-ekor kerbau dan kalian telah mencintai pertanian dan kalian telah meninggalkan jihad di jalan Allah, Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan diangkat sampai kalian kembali kepada agama kalian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits shahih ini terdapat keterangan akan solusi dan obat akan kondisi yang sedang meliputi ummat Islam (sekarang ini), berupa kehinaan yang menguasai mereka seluruhnya, kecuali sejumlah kecil dari ummat ini yang senantiasa berpegang teguh dengan urwatul wutsqa (tali yang kuat) yang tidak akan putus. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menjelaskan di dalam hadits ini penyakit yang apabila menjangkiti ummat Islam, maka Allah akan hinakan mereka. Kemudian beliau menjelaskan kepada mereka obatnya dan jalan untuk selamat dari penyakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkata di awal haditsnya; “Apabila kalian telah berjual-beli dengan cara ‘inah”. Jual-beli dengan cara ‘inah, kami tidak akan berbicara tentangnya di sini melainkan singkat saja, yaitu: salah satu bentuk transaksi ribawi yang kebanyakan manusia di zaman sekarang terfitnah dengannya. Sistem jual-beli ini disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sekedar sebagai contoh -dan bukan membatasi- dari banyak hal yang apabila ummat ini terjatuh ke dalamnya mereka berhak mendapatkan kehinaan dari Allah atau oleh karenanya Allah hinakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menyebutkan beberapa contoh pada nas hadits di atas:&lt;br /&gt;Yang pertama: Jual-beli dengan cara ‘inah, kemudian beliau menyebutkan yang berikutnya, beliau berkata; “Dan kalian mengambil ekor-ekor kerbau, dan kalian telah cinta kepada pertanian”. Dan ini adalah ungkapan akan rakusnya ummat Islam dalam mengumpulkan dunia dan akan perhatian mereka yang besar terhadap kemewahan-kemewahannya. Itulah yang memalingkan mereka dari menegakkan kewajiban-kewajiban syariat yang banyak, dan dalam hal ini beliau menyebutkan sebuah contoh, kata beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada kelanjutan hadits; “Dan kalian telah meninggalkan jihad di jalan Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila kalian telah jual-beli dengan cara ‘inah” maksudnya; kalian telah jatuh ke dalam sistem-sistem transaksi yang haram, diantaranya ‘inah. “Dan kalian telah mengambil ekor-ekor kerbau, dan kalian telah mencintai pertanian” maksudnya; kalian telah berpaling dari menunaikan kewajiban-kewajiban agama kalian kepada memperhatikan urusan-urusan duniawi, dan mencari harta dengan cara apa pun dan yang demikian ini telah menjadikan kalian meninggalkan jihad di jalan Allah. Apa kiranya hukuman terhadap ummat ini ketika mereka terjatuh ke dalam perkara-perkara yang tidak satu pun darinya disyariatkan Rabb kita Azza wa Jalla!? Berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memperingatkan: “Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak Dia angkat kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada agama kalian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kehinaan yang menyelimuti ummat Islam sekarang ini adalah perkara yang telah dimaklumi oleh setiap orang yang berakal. Dan dari sini perkara ini membutuhkan penjelasan yang banyak. Dan cukup bagi kita sekedar mengingatkan apa yang telah menimpa ummat Islam berupa penjajahan Yahudi terhadap negeri Palestina, belum ditambah dengan negeri-negeri di Syam selain Palestina. Yang mana hal ini menyebabkan tiada henti-hentinya fitnah demi fitnah datang silih berganti. Dan tiada henti-hentinya pemerintah non muslim atau pemerintah muslim secara geografi berbuat kerusakan di sana. Semua itu merupakan kehinaan yang Allah Tabaaraka wa Ta’aala timpakan kepada ummat Islam, dan yang demikian ini bukan merupakan tindak kedzaliman dari Allah, sekali-kali bukan! Karena sesungguhnya Rabb kita Jalla wa ‘Ala tidak mendzalimi seorang pun dari manusia, akan tetapi mereka sendiri lah yang berbuat dzalim. Rabb kita –Azza wa Jalla- berfirman; “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka”. (QS. 4:160). Maka tatkala Dia menimpakan kehinaan kepada kita adalah dikarenakan kedzaliman kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedzaliman itu adalah kedzaliman yang jelas yang terdapat pada banyak aspek kehidupan. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan untuk kita dalam hal ini tiga contoh: jual beli dengan cara-cara yang diharamkan Allah, berlomba-lomba di dalam kemewahan dunia dan meninggalkan jihad di jalan Allah. Maka akibat dari ini semua Allah timpakan kepada kita kehinaan yang menyelimuti ini dalam gambaran seolah-olah dia adalah sebuah jasad dan jasmani di negeri kita yang tercinta Palestina. Apabila hal ini adalah kehinaan, maka apa jalan keluar darinya? dan bagaimana cara menyelamatkan diri darinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat mujarab untuk keluar dari kehinaan dan kerendahan: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, nabi yang sifatnya diterangkan oleh Rabb kita di dalam Al Qur’an di dalam firman-Nya: “amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”. (QS. 9:128). Beliau bersabda pada kelanjutan hadits di atas: “Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan diangkat dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”. Inilah obatnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menerangkan sifat obat ini dengan demikan gamblangnya di penutup hadits di atas, kata beliau: “Sampai kalian kembali kepada agama kalian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya bawakan kepada kalian hadits ini dan mengomentarinya dengan komentar-komentar dari saya, sesungguhnya dalam hal ini saya tidak menyampaikan kepada kalian suatu yang baru. Karena ummat Islam seluruhnya meskipun ada perbedaan di antara mereka dalam urusan keyakinan-keyakinan dan dalam urusan furu’ –menurut istilah mereka-, semua mereka sepakat bahwa sebab kehinaan yang menimpa ummat Islam adalah karena mereka telah meninggalkan agama mereka. Dan setiap mereka mengatakan: sesungguhnya obatnya adalah kembali kepada ajaran agama. Ini semua adalah perkara yang biasa dikenal oleh mereka semua. Akan tetapi satu hal yang ingin saya ingatkan, dan hal ini bisa jadi baru bagi sebagian orang, tapi ini merupakan kebenaran seperti yang kalian ucapkan. Perkara ini adalah: kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan sifat obat bagi ummat Islam yang terhinakan disebabkan perbuatan mereka melanggar aturan-aturan agama mereka, bahwa obat itu adalah dengan kembali kepada ajaran agama mereka!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran agama apa yang dimaksud di sini –inilah inti dari ceramahku di sini-, ajaran agama seperti apa yang dimaksud sebagai obat bagi ummat Islam di dalam nas hadits di atas. Dan ummat Islam seperti yang telah saya jelaskan setiap mereka mengatakan: wajib bagi ummat Islam beramal dengan ajaran agama mereka. Akan tetapi apa yang dimaksud dengan ajaran agama di sini!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya sangat disayangkan bahwa ajaran agama Islam telah mengalami banyak tafsiran pada masa yang panjang semenjak zaman salafusshalih Rhadiyallahu ‘Anhum, bukan hanya dalam perkara fikih yang mereka katakan sebagai perkara furu’ saja melainkan hal ini juga merambah sampai perkara-perkara akidah. Dan setiap kita mengetahui hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mengabarkan akan perpecahan ummat menjadi tujuh puluh tiga golongan, beliau bersabda: “Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan dan Nashara terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semua mereka di neraka kecuali satu. Para shahabat bertanya: siapa mereka wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam!? Beliau menjawab: mereka adalah jama’ah”. Inilah riwayat yang benar dan di sana ada riwayat lain di dalam sanadnya ada kelemahan, akan tetapi ada yang menguatkan, yaitu sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Mereka adalah orang-orang yang mengikutiku dan para shahabatku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya riwayat (yang terakhir) ini tidak ada padanya suatu yang baru apabila ditinjau dari riwayat yang pertama selain menambah kejelasan dan kerapian. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika menerangkan sifat golongan yang selamat berkata: “mereka adalah jama’ah”. Riwayat ini beliau tafsirkan pada riwayat yang ke dua bahwa jama’ah ini adalah ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan kepada kita bahwa kaum muslimin akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga kelompok. Dan kelompok-kelompok ini semuanya tersesat kecuali satu dan sifat mereka adalah yang mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya. Dan kita sekarang ini hidup di tengah-tengah perpecahan yang sangat banyak sekali yang telah kita warisi sepanjang tahun-tahun yang tidak sebentar. Dan setiap dari kelompok-kelompok ini tidak satu pun dari mereka yang menyatakan berlepas dari Islam, tidak satu pun dari mereka mengatakan: agama kami bukan Islam. Bahkan setiap mereka mengatakan: agama kami Islam. Bersamaan dengan itu setiap mereka mengatakan: obat bagi ummat ini adalah dengan berpegang kepada ajaran agama.&lt;br /&gt;Kalau begitu: ajaran ini yang ummat Islam terpecah belah tentangnya hingga menjadi tujuh puluh tiga kelompok, atau mereka terpecah belah dalam memahaminya dengan perpecahan yang demikian sengitnya, apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menjadikan obatnya adalah kembali kepada ajaran agama, (pertanyaannya) pemahaman siapa yang kita pakai untuk memahami agama ini sehingga ia menjadi obat seperti yang disabdakan Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; “Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan Dia angkat sampai kalian kembali kepada ajaran agama kalian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan membawa kalian jauh-jauh dalam memberikan contoh, sementara dihadapan kita ada contoh pertama yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada awal hadits, ketika beliau bersabda: “Apabila kalian telah jual beli dengan cara ‘inah”. Jual beli ‘inah, madzhab-madzhab yang ada berbeda pendapat tentangnya, di antara mereka ada yang membolehkannya dan di antara mereka ada yang mengharamkannya. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada hadits ini menjadikannya di antara sebab ummat Islam jatuh sakit dan sebab yang menjadikan mereka berhak mendapat kehinaan, yaitu mereka melaksanakan praktek jual beli dengan cara ‘inah. Jadi, dengan manhaj apa dan dengan pemahaman agama apa, kita wajib memahami agama ini sehingga ia menjadi sebuah agama dan menjadi sebab keluarnya kita dari kehinaan yang menyelimuti kita!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya jual beli ‘inah yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada penjabaran hadits ini telah dianggap boleh oleh sebagian muslimin. Saya tidak mengatakan orang-orang jahil atau awamnya, melainkan yang saya maksud adalah orang-orang khusus dan sebagian penulis pada masa yang lampau dan ahli hadits. Mereka menyebutkan bahwa jual beli ‘inah adalah jual beli yang halal dan termasuk ke dalam keumuman firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Qs. 2: 275) akan tetapi hadist ini menerangkan kepada kita bahwa jual beli dengan cara ‘inah tidak disyariatkan bahkan diharamkan oleh karena itu ia dijadikan sebab dari sebab-sebab berhaknya ummat Islam mendapatkan kehinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu makna hadits ini adalah tidak boleh jual beli dengan cara ‘inah. Maka apabila kita ingin kembali kepada agama kita agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala muliakan kita dan Dia mengangkat kehinaan yang menyelimuti kita, kita menganggap jual beli dengan cara ‘inah boleh atau haram!? Mesti kita mengharamkannya. Dan pengharaman ini terdapat di dalam hadits. Akan tetapi penghalalannya datang pada sebagian riwayat dan sebagian pendapat ulama.&lt;br /&gt;Kalau begitu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata di akhir hadits: “Sampai kalian kembali kepada agama kalian”. Yang dimaksud adalah agama yang terdapat di dalam Al Qur’an dan rinciannya diterangkan di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Agama yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan; “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam”. (Qs. 3: 19) dan dalam firman-Nya: “Pada hari ini Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian”. (QS. 5: 3) dan di dalam firman-Nya: “Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan diterima darinya”. (Qs. 3: 85) sampai pada akhir ayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu agama yang akan menjadi obat adalah Islam (berserah diri), akan tetapi Islam sendiri telah mengalami banyak penafsiran dalam perkara akidah (pokok) terlebih lagi dalam hal furu’ (cabang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.sahab.net/home/index.php?threads_id=154&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=286&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=287&lt;br /&gt;http://darussunnah.or.id/artikel-islam/al-hadits/mengapa-ummat-islam-selalu-ditindas/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-5871208924346026462?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/5871208924346026462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=5871208924346026462' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/5871208924346026462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/5871208924346026462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2009/02/mengapa-ummat-islam-selalu-ditindas.html' title='Mengapa Ummat Islam Selalu Ditindas?'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-1087662997959339956</id><published>2009-02-05T08:24:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T08:25:18.940-08:00</updated><title type='text'>Sejarah Hidup Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</title><content type='html'>Ditulis pada Februari 4, 2009 oleh haulasyiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli bid’ah dan ahlul batil senantiasa memiliki kepentingan dan ambisi di bawah payung kebid’ahan mereka. Setiap kali muncul ulama As-Sunnah yang menghadang mereka maka runtuhlah kepentingan dan ambisi tersebut. Sehingga merekapun berusaha menjauhkan kaum muslimin dari ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunnatullah sendiri berlaku pada setiap hamba-Nya, Dia menggilirkan kemenangan itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Kadang Ahlus Sunnah wal Jamaah yang berkuasa, kadang ahli bid’ah dan sesat yang menjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tanda kekuasaan dan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah memunculkan di tiap seratus tahun, tokoh yang mengembalikan kemurnian ajaran Islam ini bagi para pemeluknya. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah membangkitkan bagi umat ini, di tiap ujung seratus tahun, orang yang mengembalikan kemurnian ajaran Islam ini bagi pemeluknya.” (HR. Abu Dawud no. 3740)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara para mujaddid (pembaru) tersebut adalah Syaikhul Islam Taqiyyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin ‘Abdullah bin Al-Khadhir bin Muhammad bin Al-Khadhir bin ‘Ali bin ‘Abdullah bin Taimiyah Al-Harrani Ad-Dimasyqi Al-Hanbali. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan rahmat-Nya yang luas dan menempatkan beliau di dalam surga-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasab dan Kelahiran&lt;br /&gt;Beliau adalah Syaikhul Islam Taqiyyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin ‘Abdullah bin Al-Khadhir bin Muhammad bin Al-Khadhir bin ‘Ali bin ‘Abdullah bin Taimiyah Al-Harrani. Nasab beliau berujung pada kabilah ‘Arab Qaisiyah dari Bani Numair bin ‘Amir bin Sha’sha’ah dari Qais ‘Ailan bin Mudhar. Adapula yang mengatakan dari Bani Sulaim bin Manshur dari Qais ‘Ailan bin Mudhar.1&lt;br /&gt;Ulama besar, penghancur bid’ah, mujaddid dan mujahid yang agung ini -semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati beliau- dilahirkan pada hari Senin, tanggal 10 Rabi’ul Awwal tahun 661 H di desa Harran, sebuah desa yang terletak di antara Syam (mencakup Palestina, Suriah, Jordania, dan Lebanon) dan Irak, sebelah tenggara Turki sekarang. Beliau lahir di saat mulai meletusnya gelombang ekspansi bangsa Mongol (Tartar) ke beberapa wilayah sekitarnya termasuk Timur Tengah. Bangsa ini, yang disatukan kembali oleh Jenghis Khan tidak hanya menjarah daratan Cina, tapi juga menyerang Timur Tengah bahkan sampai ke seberang lautan (sampai ke Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala betul-betul menguji umat ini dengan memunculkan bangsa ini. Mereka adalah para penyembah berhala. Ibnul Atsir rahimahullahu mengatakan: “Mereka sujud kepada matahari ketika dia terbit, tidak mengharamkan apapun. Mereka melahap semua binatang termasuk anjing dan babi serta yang lainnya. Tidak mengenal nikah… dan seterusnya.” Tetapi belakangan, banyak dari mereka yang masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa itu juga, perang salib masih berlangsung. Sehingga berbagai kejadian ini menimbulkan pengaruh dan menumbuhkan kecemburuan luar biasa pada diri beliau. Betapa menyedihkan melihat bekas-bekas kehancuran akibat serangan Tartar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga mulia yang diberkahi. Keluarga yang sarat dengan ilmu dan keutamaan. Kakek beliau Abul Barakat Majduddin adalah seorang tokoh terkemuka di kalangan mazhab Hanbali. Ayahandanya, Syihabuddin ‘Abdul Halim termasuk tokoh ulama pembawa petunjuk. Seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan kemuliaan beliau di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia enam tahun, di saat agresi Bangsa Tartar mulai terasa di wilayah Timur Tengah, bahkan sudah mendekati wilayah Harran, beliau dibawa oleh keluarganya pindah ke wilayah Syam bersama saudara-saudaranya yang lain. Mereka berangkat di malam hari sambil membawa buku-buku yang diletakkan di atas gerobak karena tidak mempunyai kendaraan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi demikian, mereka hampir tersusul oleh musuh. Gerobakpun berhenti. Mereka ber-ibtihal (berdoa), meminta pertolongan (istighatsah) kepada Allah Yang Maha Perkasa hingga merekapun selamat dan lolos dari kejaran musuh. Pada pertengahan tahun 667 H, tibalah mereka di Damaskus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa beliau dikenal dengan Ibnu Taimiyah?&lt;br /&gt;Suatu ketika, kakek beliau berangkat menunaikan ibadah haji dalam keadaan istrinya yang ditinggal sedang mengandung. Setibanya di Taima’, sang kakek melihat seorang bocah perempuan keluar dari sebuah tenda. Begitu tiba di Harran, sepulangnya dari ibadah haji, beliau mendapati istrinya telah melahirkan seorang anak perempuan. Ketika melihat bayi tersebut, beliau berkata: “Wahai Taimiyah, wahai Taimiyah.” Akhirnya keluarga ini dikenal dengan nama tersebut.&lt;br /&gt;Penulis lain mengatakan bahwa kakek beliau Muhammad bin Al-Khadhir, ibunya bernama Taimiyah, seorang wanita yang suka memberi nasihat, sehingga mereka dinisbahkan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak dan Kepribadiannya&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullahu, tumbuh dalam pengawasan sempurna, sikap ‘iffah (menjaga kehormatan), ketergantungan dan pengabdian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sederhana dalam berpakaian dan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulitnya putih, dengan rambut dan janggut hitam serta sedikit beruban. Rambut beliau sampai menyentuh ujung telinga beliau. Kedua matanya bersinar-sinar seolah-olah dua buah lisan yang sedang berbicara. Perawakannya sedang, dadanya bidang. Suaranya besar, fasih, sangat cepat membaca dan tajam, tapi beliau tekan dengan sifat santun yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaannya sudah tampak sejak kecilnya. Diceritakan oleh Al-Bazzar dalam A’lamul ‘Aliyyah, setiap kali hendak menuju tempat belajarnya, Ibnu Taimiyah dihadang oleh seorang Yahudi dengan sejumlah pertanyaan karena melihat kecerdasannya yang luar biasa. Semua pertanyaan itu dijawab dengan cepat oleh Ibnu Taimiyah. Bahkan beliau menjelaskan kepada Yahudi itu kebatilan yang diyakininya selama ini. Tidak lama setelah mendengarkan keterangan dari beliau setiap kali mereka bertemu, Yahudi itupun masuk Islam dan baik Islamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan kemasyhuran beliau dalam ilmu dan fiqih, amar ma’ruf nahi munkar, Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan pula kepada beliau berbagai perilaku yang terpuji, hingga beliau dikenal bahkan dipersaksikan oleh manusia tentang keadaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, beliau sangat santun. Ash-Shafadi mengisahkan dalam Al-Wafi bil Wafayat (2/375): “Diceritakan kepadaku, bahwa ibunda Syaikhul Islam pernah memasak makanan sejenis labu tetapi rasanya pahit. Mulanya dicicipi oleh ibunda beliau. Ketika merasakan pahitnya, dia meninggalkan makanan itu sebagaimana adanya. Suatu ketika, Syaikhul Islam menanyakan adakah sesuatu yang dapat dimakan? Ibunya menceritakan bahwa tadi dia memasak makanan tetapi rasanya pahit. Syaikhul Islam menanyakan letak makanan itu. Sang ibu menunjukkan tempatnya dan beliaupun duduk menyantap makanan itu sampai kenyang, tanpa mencelanya sedikitpun.”&lt;br /&gt;Demikianlah tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:&lt;br /&gt;مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلاَّ تَرَكَهُ&lt;br /&gt;“Tidaklah pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela satu makanan sama sekali. Kalau beliau suka, beliau menyantapnya dan bila tidak, beliaupun meninggalkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan-keadaan di mana Syaikhul Islam hidup di dalamnya, membuktikan bahwa beliau senantiasa dalam keadaan berhias dengan keyakinan dan musyahadah yang menumbuhkan rasa sangat butuh, terjepit, penghambaan, dan inabah (senantiasa kembali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan oleh Ibnu ‘Abdil Hadi, bahwasanya pernah Ibnu Taimiyah mengalami kesulitan dalam sebuah masalah, atau sulit memahami satu ayat. Beliau lalu datang ke sebuah tempat yang sepi di masjid, lalu mencecahkan keningnya di atas tanah (sujud) seraya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berulang-ulang: “Wahai (Allah) Yang Mengajari Ibrahim, pahamkanlah diriku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam juga pernah menceritakan: “Sungguh, pernah ada sebuah masalah atau keadaan yang mengganggu pikiran saya. Lalu saya istighfar (memohon ampun) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih kurang seribu kali, hingga dada saya terasa lapang dan lenyaplah problem yang saya hadapi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini beliau lakukan di pasar, masjid, ataupun madrasah.&lt;br /&gt;Beliau memiliki keistimewaan sendiri dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika malam sudah mulai larut, beliau menyendiri, berduaan dengan Rabbnya k dengan penuh ketundukan. Tubuhnya bergetar ke kiri dan ke kanan jika mulai tenggelam dalam shalatnya. Apabila selesai shalat fajar, beliau duduk sampai matahari naik tinggi, dan mengatakan: “Inilah sarapan pagiku. Kalau aku tidak menyantapnya, hilanglah kekuatanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kezuhudan dan kerendahan hatinya luar biasa. Beliau selalu mengulang-ulang ucapannya: “Saya tidak punya apa-apa. Tidak ada sesuatu yang berasal dari saya. Dan tidak ada apa-apa pada diri saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang memuji beliau di hadapannya, beliau hanya mengatakan: “Demi Allah, saya sampai saat ini masih terus memperbarui keislaman saya, setiap waktu. Dan saya merasa belum pernah masuk Islam sebelum ini dengan keislaman yang baik.”&lt;br /&gt;Beliau selalu mengatakan:&lt;br /&gt;Aku hanyalah pengemis, putra pengemis,&lt;br /&gt;demikianlah ayah dan kakekku&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullahu menukil sebuah ucapan beliau tentang ketakwaan: “Orang yang arif (bijak), tidak akan memandang dia punya hak yang harus dipenuhi orang lain. Tidak pula mempersaksikan keutamaan dirinya atas orang lain. Karena itulah dia tidak pernah mencela, menuntut, dan tidak pula memukul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu kali beliau diisukan akan merebut kekuasaan Raja Nashir. Ketika dipanggil di hadapan orang banyak, beliau ditanya oleh Raja Nashir: “Aku dengar orang banyak menaatimu, dan engkau sedang memikirkan rencana untuk menguasai kerajaan ini?”&lt;br /&gt;Mendengar hal ini, dengan suara lantang dan didengar seluruh yang hadir ketika itu Syaikhul Islam berkata: “Saya melakukan hal itu? Demi Allah. Sungguh, kerajaan anda dan kerajaan Moghul (Tartar) tak ada nilainya sepeserpun bagi saya.”2&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullahu, salah seorang murid yang mencintai beliau, menceritakan:&lt;br /&gt;Baginda Sultan An-Nashir Al-Qalawun (wafat 741 H), ketika kembali ke kerajaannya untuk kedua kalinya, keinginan kuatnya yang pertama adalah bertemu dan melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keduanya bertemu, mereka berpelukan, kemudian berbincang-bincang. Di antara pembicaraan mereka, Sultan An-Nashir meminta Syaikhul Islam mengeluarkan fatwa agar dia menangkap dan menghukum mati beberapa orang qadhi (hakim) yang pernah menjelek-jelekkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Bahkan Sultan An-Nashir mendesak beliau mengeluarkan fatwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu karena Sultan sangat marah kepada mereka yang menggulingkannya serta membai’at Al-Jasyinkir. Setelah berhasil membunuh Al-Jasyinkir dan menumpas beberapa tokoh yang terlibat, termasuk Nashr Al-Munbaji, Sultan bertekad menangkap pula beberapa qadhi dan ahli fiqih yang loyal kepada Al-Jasyinkir, yang beberapa kali mengeluarkan fatwa untuk membunuh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;Bagi Sultan, ini merupakan kesempatan melampiaskan kejengkelannya kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sangat tanggap. Beliau justru memberikan penghormatan besar kepada para qadhi dan ulama tersebut. Beliau jelaskan kepada sultan tentang kedudukan dan keutamaan mereka. Bahkan beliau mengingkari munculnya ucapan-ucapan buruk terhadap mereka. Kata beliau kepada Sultan: “Jika Baginda membunuh mereka ini, niscaya Baginda tidak akan menemukan lagi sesudah mereka, tokoh-tokoh seperti mereka. Adapun mereka yang menyakiti saya, maka dia halal (tidak saya tuntut apapun, ed.), dan saya tidak akan berusaha mencari pembelaan untuk diri saya.”&lt;br /&gt;Demikianlah sikap seorang muwahhid, dalam prinsip al-wala’ wal bara’ (cinta dan benci). Semua sikap al-wala’ dan al-bara’ ini hanya berhak ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak sepantasnya seseorang mengikat prinsip ini untuk kepentingan dirinya, tokoh atau kelompoknya semata.&lt;br /&gt;Diceritakan pula oleh Ibnu ‘Abdil Hadi, ketika Syaikhul Islam di Mesir dan disakiti oleh musuh-musuhnya, datanglah sepasukan orang-orang Al-Husainiyah. Mereka meminta izin beliau untuk menangkap dan membunuh orang-orang yang menyakiti beliau. Kalau perlu dan diizinkan, mereka siap meratakan negeri Mesir dengan tanah.&lt;br /&gt;Tapi Syaikhul Islam menjelaskan bahwa hal itu tidak halal. Mereka membantah: “Apakah yang dilakukan mereka terhadap engkau itu halal?”&lt;br /&gt;Syaikhul Islam menegaskan bahwa dia tidak akan berupaya mencari pembelaan untuk pribadinya.&lt;br /&gt;Perhatikan pula perkataan Ibnu Makhluf, seorang qadhi Malikiyah, salah seorang seteru beliau, yang pernah memerintahkan agar Syaikhul Islam dipenjara: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Ibnu Taimiyah. Di saat dia berkuasa terhadap kami, dia justru melimpahkan kebaikan. Sedangkan kami, ketika kami berkuasa terhadapnya, kami justru berbuat jelek serta melakukan makar terhadapnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan Ilmiah&lt;br /&gt;Hari-hari beliau sarat dengan ilmu. Belajar dan mengajar dari satu majelis ke majelis lainnya sampai di dalam penjara. Fatwa-fatwa dan risalah beliau selalu diharapkan meskipun beliau mendekam dalam penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil sudah nampak kesungguhannya dalam belajar. Terlebih lagi Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepadanya kekuatan hafalan dan sifat sulit lupa. Sehingga apa yang dibacanya sekali sudah terpatri dalam ingatannya, baik lafadz maupun maknanya.&lt;br /&gt;Al-Imam Abu Thahir As-Sarmari menyebutkan dalam majelis ke-67 dari majelis imlaknya tentang dzikir dan al-hifzh: “Di antara keajaiban-keajaiban kekuatan hafalan (hifzh) di zaman kita ini adalah Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim Ibnu Taimiyah. Karena beliau pernah melihat sebuah kitab lalu membacanya satu kali, saat itu juga isi kitab itu telah tercetak di dalam benaknya. Kemudian dia mengulang-ulang dan menukilnya dalam tulisan-tulisannya secara tekstual atau makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan lebih menakjubkan lagi yang pernah saya dengar tentang beliau adalah kisah yang diceritakan sebagian sahabatnya ketika beliau masih anak-anak. Ayahnya ingin membawa anak-anaknya rekreasi ke sebuah taman, lalu beliaupun berkata kepada Syaikhul Islam: ‘Hai Ahmad, engkau berangkat bersama saudara-saudaramu untuk bersantai.’ Tapi Ibnu Taimiyah memberi alasan kepada ayahandanya, sedangkan ayah beliau terus mendesak. Syaikhul Islam tetap menolak: ‘Saya ingin ayah memaafkan saya untuk tidak keluar.’&lt;br /&gt;Akhirnya sang ayah meninggalkannya dan berangkat bersama saudara-saudara beliau yang lain. Mereka menghabiskan hari itu di taman tersebut, dan kembali menjelang sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiba di rumah, sang ayah berkata: ‘Hai Ahmad, engkau telah membuat saudaramu kesepian dan menodai kegembiraan mereka dengan ketidakhadiranmu bersama mereka. Mengapa?’&lt;br /&gt;Beliau menjawab: ‘Wahai ayahanda, sesungguhnya hari ini tadi, ananda sudah menghafal kitab ini.’ Beliau menunjukkan sebuah kitab di tangan beliau.&lt;br /&gt;Sang ayah terkejut, kagum dan tidak percaya: ‘Engkau sudah menghafalnya?’ Lalu beliau berkata kepada Syaikhul Islam: ‘Bacakan kitab itu kepadaku.’&lt;br /&gt;Syaikhul Islam membacakannya, dan ternyata beliau memang telah menghafal isi kitab itu seluruhnya. Sang ayah segera mendekap dan mencium keningnya seraya berkata: ‘Wahai anakku, jangan engkau ceritakan kepada siapapun apa yang telah kau lakukan.’ Demikian katanya karena khawatir ‘ain (mata hasad) menimpa putranya tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abdil Hadi menyebutkan pula, ada seorang syaikh dari Halab datang ke Damaskus dan mendengar berita tentang seorang anak yang sangat cepat hafalannya bernama Ahmad bin Taimiyah. Dia ingin melihat anak tersebut. Setelah ditunjukkan jalan yang biasa dilalui Ibnu Taimiyah ke tempat belajarnya, syaikh itupun duduk menanti. Tak lama kemudian, datanglah Ibnu Taimiyah membawa batu tulis besar. Syaikh itu memanggilnya dan melihat batu tulis itu lalu meminta agar Ibnu Taimiyah menghapus tulisan yang ada kemudian menuliskan apa yang didiktekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada belasan hadits yang didiktekan, kemudian syaikh itu memerintahkan beliau membacanya lalu menyetorkan apa yang dibacanya tadi. Syaikhul Islam segera menyetorkannya kepada syaikh itu apa yang dibacanya dari batu tulis itu.&lt;br /&gt;Kemudian syaikh itu mendiktekan beberapa sanad lalu memerintahkan beliau membacanya. Setelah itu syaikh itu memerintahkannya agar menyetorkan apa yang dibacanya di atas batu tulis itu.&lt;br /&gt;Setelah itu, syaikh tadi bangkit berdiri dan mengatakan bahwa kalau anak ini panjang umur, urusannya sangat besar di masa mendatang. Karena belum pernah ada yang seperti dia kekuatan hafalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru dan Murid Beliau&lt;br /&gt;Dalam usia masih belia, beliau sudah belajar dari beberapa orang guru ternama. Di antara mereka adalah ‘Abdud Da’im, Al-Qasim Al-Irbili, Al-Muslim bin ‘Allan, Zainuddin Ibnul Munja, Al-Majd Ibnu ‘Asakir, dan Ibnu Abi ‘Umar serta para syaikh lainnya yang hampir 200 orang jumlahnya. Murid-murid beliaupun bertebaran, bahkan sebagian mereka telah sampai pada tingkatan mujtahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara murid beliau yang paling terkenal dan paling banyak mewarisi ilmu beliau adalah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahu.&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullahu mengatakan: “Seandainya Syaikh Taqiyuddin tidak mempunyai keutamaan lain selain hanya meluluskan seorang murid yang terkenal seperti Asy-Syaikh Syamsuddin Ibnu Qayyim Al-Jauziyah –pengarang beberapa karya besar yang diambil manfaatnya oleh pendukung dan musuh beliau–, itu saja sudah cukup kuat sebagai bukti nyata betapa agung kedudukan beliau (Ibnu Taimiyah).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid beliau lainnya adalah Ibnu Katsir rahimahullahu, penyusun tafsir yang menjadi salah satu rujukan kaum muslimin. Setelah wafatnya, Ibnu Katsir dimakamkan di samping kuburan guru yang dicintainya, Ibnu Taimiyah di pemakaman Shufiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid beliau yang juga terkenal adalah Adz-Dzahabi, penyusun Tarikh Islam, dan kitab-kitab rijal di antaranya Siyar A’lamin Nubala’, Mizanul I’tidal, dan lain-lain. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullahu penulis Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari pernah berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sambil minum zamzam di dekat Baitullah (Ka’bah) agar diberi anugerah kemampuan membaca yang luas (istiqra’ tam) seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri kepada Al-Imam Adz-Dzahabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu itu seolah-olah menyatu dengan darah dan daging beliau.&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Bazzar rahimahullahu menceritakan dari Asy-Syaikh Tajuddin Muhammad yang dikenal dengan Ibnu Ad-Dauri rahimahullahu, dia pernah menghadiri majelis Ibnu Taimiyah yang ketika itu ditanya oleh seorang Yahudi tentang masalah al-qadar (taqdir) dalam bentuk beberapa bait syair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar syair-syair itu, Syaikhul Islam berpikir sejenak, lalu mulai menulis jawabannya. Kami mengira beliau menulis jawaban dalam bentuk uraian biasa. Ternyata jawaban beliau juga dalam bentuk syair, lebih kurang 100 bait, yang seandainya disyarah (ditafsirkan, diuraikan) tentu akan menjadi dua jilid kitab yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis beliau termasuk majelis yang diberkahi. Al-Bazzar menyebutkan, setiap kali beliau menyebut nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak lupa mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau. Ibnu Taimiyah sangat mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hampir tidak ada yang lebih mengagungkan dan lebih semangat mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada Ibnu Taimiyah. Selesai mengajar, beliau membuka matanya dan menghadapi hadirin dengan wajah yang berseri-seri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, tanggal 2 Muharram tahun 683 H, Asy-Syaikh Al-Imam Al-‘Allamah Taqiyyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam Ibnu Taimiyah Al-Harrani mulai memberi pelajaran di Darul Hadits As-Sukkariyah di Qashsha’in. Majelis tersebut dihadiri pula oleh Baha’uddin Yusuf bin Az-Zaki Asy-Syafi’i, Tajuddin Al-Fazari Syaikh Asy-Syafi’iyah, Asy-Syaikh Zainuddin bin Al-Marhal, dan Asy-Syaikh Zainuddin Al-Munja Al-Hanbali. Sedangkan materi yang dipelajari adalah masalah yang cukup ramai dibahas, yaitu tentang basmalah.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Taqiyyuddin Al-Fazari menyebutkan uraian itu melalui tulisannya karena faedahnya yang begitu melimpah. Demikian pula halnya dengan persoalan-persoalan lain yang dianggap baik oleh para peserta yang hadir. Padahal, usia beliau ketika itu baru 22 tahun.&lt;br /&gt;Pada tahun 755 H, beliau memberi pelajaran di madrasah Al-Hanbaliyah, menggantikan Asy-Syaikh Zainuddin Ibnul Munja, salah seorang ulama mazhab Hanbali yang telah wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dan mengajar ini tidak pernah beliau hentikan meskipun dalam penjara. Pengarang Al-Kawakibud Durriyah menceritakan, bahwa ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditangkap lalu dipenjara, beliau menampakkan kegembiraan dan memang itulah yang dia nantikan.&lt;br /&gt;Di dalam penjara, situasi penjara berubah menjadi majelis ilmu, ibadah dan berbagai kebaikan. Hingga akhirnya, para narapidana yang selesai menjalani masa hukumannya dan keluar, lebih memilih tinggal bersama beliau untuk mendapatkan faedah.&lt;br /&gt;Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Lihat Jamharah Ansabil ‘Arab karya Ibnu Hazm rahimahullahu hal 275. Lihat At-Tibyan Syarh Badi’atil Bayan karya Ibnu Nashir (Program Syamilah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=741&lt;br /&gt;http://haulasyiah.wordpress.com/2009/02/04/sejarah-hidup-syaikhul-islam-ibnu-taimiyah/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-1087662997959339956?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/1087662997959339956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=1087662997959339956' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/1087662997959339956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/1087662997959339956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2009/02/sejarah-hidup-syaikhul-islam-ibnu.html' title='Sejarah Hidup Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-2095967404305278978</id><published>2009-02-05T08:20:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T08:23:15.076-08:00</updated><title type='text'>Tanya Jawab: Sujud Tilawah</title><content type='html'>Pertanayaan:&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz, barokallahi fiik, ayat mana sajakah yang rojih untuk bisa sujud tilawah, apakah boleh ke-15 tempat sujud (tilawah) di dalam sholat, ataukah hanya 4 saja yang boleh (karena kalau tidak salah ingat, sebagian berpendapat hanya 4 tempat saja yang kuat). Adakah hadis shohih yang menjelaskan ke-15 tersebut (khususnya dalam sholat, lebih-lebih kalau ada yang shorih). Kalau dalam sholat, apakah hanya dalam sholat jahar (jamaah/wajib), ataukah juga sirr (jamaah/wajib) dan sholat sunnah (sendiri) ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kalau kita ingin membaca surat yang ada tilawahnya dalam sholat sementara makmum ada yang awam (karena membaca Subhanallah, sebagian tidak ikut sujud), apakah yang sebaiknya dilakukan, apakah diberitahukan sebelumnya, tidak usah sujud tilawah, ataukah tetap sujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jazakallah khoiron atas pencerahannya.&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban oleh Ustadz Dzulqarnain:&lt;br /&gt;Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa yang shohih dari hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam sujud tilawah hanya pada 4 tempat saja. Yaitu, pada surah Shod: 24, akhir surah An-Najm, Surah Al-Inshiqoq: 21 dan akhir surah Al-’Alaq.&lt;br /&gt;Maka sebaiknya sujud pada empat tempat itu saja. Tapi bagi siapa yang sujud pada tempat-tempat lainnya, kita tidak mengingkarinya dan sebaiknya ikut sujud bersamanya kalau memang dalam keadaan sholat. Hal tersebut karena sebagian ulama Salaf ada yang sujud selain dari 4 tempat di atas dan zhohir Al-Qur’an juga memerintah untuk sujud. Wallahu A’lam&lt;br /&gt;from;&lt;a href="http://pakisbintaro.wordpress.com/2009/02/04/tanya-jawab-sujud-tilawah-2/"&gt;http://pakisbintaro.wordpress.com/2009/02/04/tanya-jawab-sujud-tilawah-2/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-2095967404305278978?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/2095967404305278978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=2095967404305278978' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/2095967404305278978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/2095967404305278978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2009/02/tanya-jawab-sujud-tilawah.html' title='Tanya Jawab: Sujud Tilawah'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-8472089587736543442</id><published>2008-08-03T06:31:00.001-07:00</published><updated>2008-08-03T06:32:07.491-07:00</updated><title type='text'>PENGUMUMAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.salafy.or.id/upload/daurah_syaikh2008.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px;" src="http://www.salafy.or.id/upload/daurah_syaikh2008.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-8472089587736543442?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/8472089587736543442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=8472089587736543442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/8472089587736543442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/8472089587736543442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2008/08/pengumuman.html' title='PENGUMUMAN'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-4964266480019912967</id><published>2008-05-23T06:46:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T07:07:26.702-07:00</updated><title type='text'>Mensyukuri Nikmat Allah ta’ala dengan Mengingat Kematian</title><content type='html'>Mensyukuri Nikmat Allah ta’ala dengan Mengingat Kematian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Abu Salma bin Rosyid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam jum’at tanggal 18 April 2008 pelajaran kami memasuki kitabul Janaiz (kitab Jenazah), Ustadz Sanin Hasanudin memulai membaca hadits pertama dari bab tersebut pada kitab Bulughul Marram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صل الله عليه وسلم : اكثروا ذكر هاذم اللذات : الموت. رواه الترمذي والنسائى وصححه ابن حبان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh Semoga Allah ta’ala meridhoinya, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : Perbanyaklah engkau menyebut pelebur kelezatan yaitu mati. (HR. Tirmidzi dan Nasai dan di shahihkan oleh Ibnu Hibban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memohon kepada Allah ta’ala penjelasan Ustadz senantiasa bermakna di dalam jiwa ini, saya berharap Allah ta’ala mudahkan kepada hambanya ini mengingat dan mengamalkan penjelasan dan faedah-faedah hadits ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa pelajaran yang mampu kami tulis kembali, semoga bermanfaat bagi kita sekalian, sehingga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan oleh Allah ta’ala mempersiapkan bekal pada kehidupan yang selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Muslimin semoga Allah ta’ala merahmati kita sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al Maut itu tidak fana (lenyap), Al maut, kematian itu intiqolu ruh min ‘alamin ila ‘alamin akhor. maut itu proses perpindahan ruh dari satu alam ke alam yang lain, maut itu perpindahan ruh, berpisahnya ruh dari badan kita. Itulah yang namanya maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman dalam surat Azzumar 42,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُ يَتَوَفَّى الأنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah yang mematikan jiwa ketika matinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat-riwayat bahwa ruh itu tetap ada hidup selamanya, maka kita yang telah ditakdirkan oleh Allah ta’ala menjadi hidup sebagai manusia akan tetap terus hidup menjadi manusia, kita tidak bisa berubah menjadi batu. Kehidupan kita ini akan berlanjut dan akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah ta’ala. Oleh karena itu bersiap-siaplah menghadapi kematian dan kehidupan yang abadi di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh barang siapa yang dimatikan dalam keadaan tidak mentaati Allah ta’ala bahkan sebaliknya bermaksiat kepada-Nya dan ditakdirkan celaka maka akan selalu celaka untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah tidak bisa menghindar dari menjadi manusia. Kita akan dimintai pertanggung jawaban. Kita akan dituntut dengan amalan-amalan kita. Oleh karena itu penulis kitab Bulughul Marram yaitu Ibnu Hajar mengawali kitab janaiz ini dengan hadits ini untuk mengingatkan kaum muslimin dari kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara faedah hadits yang dijelaskan oleh Ustadz adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Al Maut itu merupakan pemutus kelezatan kehidupan dunia dari manusia, dengan maut itu manusia akan berpindah dari kehidupan dunia ke akhirat, kalau dia termasuk hamba yang sholih, kelezatan dunia itu akan diganti oleh Allah ta’ala dengan kelezatan akhirat yang jauh lebih nikmat. Akan tetapi jika dia adalah orang yang jelek kelezatan dunia itu akan diganti dengan kesengsaraan akhirat yang sangat pedih yang kepediahannya itu tidak dapat dibayangkan oleh manusia yang hidup di dunia ini (semoga Allah ta’ala melindungi kita dari yang demikian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh apabila sejelek-jelak manusia yang ada di dunia ini mati, dimasukkan di akhirat dan di adzab maka dia akan merasakan penderitaan yang ia rasakan di dunia itu sebagai surga, karena apa ? karena besar dan pedihnya kesengsaraan di akhirat. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan kita dengan banyak-banyak mengingat kematian. Agar kita mempersiapkan bekal untuk perjalanan yang sangat panjang. Agar kelezatan dunia itu tidak berganti dengan kesengsaraan di akhirat namun kelezatan di dunia ini akan diganti oleh Allah ta’ala dengan kelezatan di akhirat yang abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mengingat kematian itu merupakan penasehat terbesar bagi manusia, maka marilah kita menjadikan mati sebagai penasehat terbaik bagi kita. Dia, kematian adalah sebesar-besar pengingat manusia dari panjangnya angan-angan dan tertipu dari kehidupan dunia. Marilah kita senantiasa mengingat bahwa kita itu pasti akan mati. Sudahkah kita siap untuk mati ? Punya bekal berapa kita ? Jika di sini di dunia ini, kita akan pergi selama dua hari saja, mungkin kita akan mempersiapkan bekal selama satu bulan. Terus bagaimana dengan kita yang akan pergi untuk selama-lamanya, apa dan berapakah bekal kita ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kita harus bersyukur kepada Allah ta’ala yang Maha Penyayang, Allah ta’ala memberi kita waktu yang sangat singkat di dunia ini namun waktu yang sangat singkat itu dapat digunakan untuk mencari dan mempersiapkan bekal bagi kehidupan kita yang selama-lamanya di akhirat. Sayang seribu sayang diantara manusia banyak yang lalai tidak sadar bahwa nanti akan hidup abadi, akan hidup hakiki selama-lamanya. Di antara manusia, mereka ada yang memilih kehidupan dunia yang singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu dengan mengingat mati, manusia diingatkan agar tidak lalai terhadap kehidupan yang abadi nanti. Dengan mengingat kematian, akan muncul pada jiwa manusia kesadaran untuk melakukan ketaatan. Dengan mengingat kematian, manusia akan senantiasa sadar ingat mempersiapkan bekal bagi kehidupan yang sangat panjang dan abadi. Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menganjurkan kita untuk banyak-banyak mengingat mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Muslimin, kenapa ? kenapa kita tidak dapat sabar sejenak untuk menyambut kehidupan yang abadi, sabar dengan taat kepada Allah ta’ala. Kenapa, kenapa kita tidak dapat sabar untuk menghadapi kehidupan yang panjang. Kenapa dalam kehidupan yang pendek (di dunia) ini angan-angan kita terlalu panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu orang yang cerdas menurut ibnu mas’ud adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan orang yang paling bagus menyiapkan bekal untuk menghadapi kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang bodoh itu adalah orang yang lalai terhadap kematian dan tidak menyiapkan untuk kehidupan akhirat, orang bodoh itu mereka adalah ahlu dunia, mereka sangat bodoh, orang yang melalaikan kehidupan yang sangat panjang dan kenikmatan yang tiada taranya, memilih dan mengutamakan kenikmatan dunia yang sangat pendek dan bercampur dengan segala kesusahan. Itu semua merupakan tipuan dan godaan syaithon, maka bersabarlah dan terus berupaya mempersiapkan kematian yang akan dilalui selama-lamanya dengan meninggalkan kemaksiatan dan melakukan kethaatan kepada Allah ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembaca yang budiman sebagian pelajaran yang dapat saya ambil dan saya tuliskan dari penjelasan Ustadz Sanin terhadap hadit Abu Huroriroh pada kitab Janaiz di Bulughul Maram, Semoga Allah ta’ala mematikan kita di atas Islam dan sunnah, semoga Allah ta’ala mematikan kita di atas Islam dan sunnah, semoga Allah ta’ala mematikan kita di atas Islam dan sunnah, amin,amin, amain ya Rabbal ‘alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://abasalma.wordpress.com/2008/04/29/mensyukuri-nikmat-allah-taala-dengan-mengingat-kematian/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-4964266480019912967?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/4964266480019912967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=4964266480019912967' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/4964266480019912967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/4964266480019912967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2008/05/mensyukuri-nikmat-allah-taala-dengan.html' title='Mensyukuri Nikmat Allah ta’ala dengan Mengingat Kematian'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-527239740425849582</id><published>2008-04-01T09:17:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T09:24:26.516-07:00</updated><title type='text'>Menangkal Film "Fitna", Muslim Belanda Sebarkan 50 Ribu Buku Ahmad Deedat Gratis</title><content type='html'>Ditulis oleh Administrator Remas Stembayo   &lt;br /&gt;Saturday, 29 March 2008&lt;br /&gt;Sehari setelah politisi ekstrim Belanda Geert Wilders, mempublikasikan film “Fitna” yang melecehkan Islam, di Amsterdam, dimulailah aksi Muslim Belanda bekerjasama dengan Saudi Arabia untuk menghadapi kedustaan yang dilakukan oleh film "Fitna."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pelaku aksi ini memilih buku-buku da'i terkenal dari Selatan Afrika yakni Syaikh Ahmad Deedat. Tokoh yang kini sudah wafat itu memiliki buku-buku yang terkenal kuat argumentasinya menghadapi tuduhan dan fitnah yang dilancarkan musuh-musuh Islam terhadap Al-Quranul Karim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tokoh perbandingan agama asal Saudi, Asham Ahmad yang juga menggagas aksi ini mengatakan, “Target kampanye yang kami lakukan terfokus pada bentuk reaksi besar terhadap serangan terhadap Al-Quranul Karim. Karena itu, kami melakukan aksi 'tenang' ini, untuk memfungsikan semua programnya secara damai, guna memperbaiki pengertian publik terhadap risalah Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan bahwa agenda aksinya juga ditujukan untuk menutup kesempatan bagi para musuh Islam untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan, yakni menekan minoritas Muslim dengan aksi-aksi teror dan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka ingin menjadikan film itu sebagai sarana untuk lebih menekan umat Islam, mempersempit ruang kaum muslimin sebagaimana yang telah terjadi atas minoritas Muslim di Eropa, ” ujar Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geert Wilders telah mengabaikan berbagai pendapat dan permintaan agar ia membatalkan penyiaran film "Fitna" yang diprediksi akan memunculkan reaksi besar umat Islam. Dan sebagai jawabannya, umat Islam akan memanfaatkan momentum ini untuk lebih memperluas penjelasan dan dakwah Islam yang sesungguhnya ke masyarakat Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program aksi ini dilakukan dengan membagikan lebih dari 50 ribu eksemplar buku gratis milik Ahmad Deedat yang berjudul, “Al-Masih dalam Islam dan Al-Quran”. Buku itu kini sudah diterjemahkan dalam bahasa Belanda dan siap dibagikan secara luas di masyarakat Belanda melalui berbagai tempat, seperti masjid, perkantoran, dan berbagai organisasi masyarakat Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dukungan walikota Amsterdam yang juga mendukung kegiatan ini, kaum minoritas Muslim Belanda akan semakin terdorong untuk menyebarkan misi Islam yang memang damai dan bisa berdampingan hidup dengan berbagai agama di Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan buku Ahmad Deedat untuk melawan kejahatan atas Islam dalam film "Fitna", adalah karena Ahmad Deedat merupakan tokoh terkenal dan mempunyai pengalaman panjang dalam membela dakwah Islam sekaligus mampu menawarkan argumentasi yang mematikan di hadapan orang-orang yang memusuhi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia juga memiliki kumpulan karya yang sangat berharga dari tulisannya yang sudah terbukti manfaatnya bagi dunia Islam. Buku-buku Ahmad Deedat telah juga membuka pintu bagi ribuan orang yang telah masuk Islam setelah membaca buku-bukunya, ” ujar Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Eramuslim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-527239740425849582?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/527239740425849582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=527239740425849582' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/527239740425849582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/527239740425849582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2008/04/menangkal-film-fitna-muslim-belanda.html' title='Menangkal Film &quot;Fitna&quot;, Muslim Belanda Sebarkan 50 Ribu Buku Ahmad Deedat Gratis'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-386462591779448741</id><published>2008-03-30T08:03:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T08:08:06.054-07:00</updated><title type='text'>Misteri Alam Kubur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.ahlussunnah-jakarta.com/images/bismillaah.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px;" src="http://www.ahlussunnah-jakarta.com/images/bismillaah.gif" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Buletin Jum’at Al-Atsariyyah&lt;br /&gt;Jika kita memasuki daerah pekuburan dan melayangkan pandangan pada kuburan-kuburan yang tersusun rapi, maka kita akan mendapati keheningan dan sunyi yang berkepanjangan. Tak terdengar sedikitpun suara, meski banyak yang tinggal disitu. Kuburan-kuburan yang berjejer rapat, sementara dahulu mereka tinggal berjauhan, tidak saling mengenal antara satu dengan yang lainnya. Ada anak kecil yang masih menyusui, ada orang kaya, ada juga orang yang tak punya. Ada orang yang tua renta, dan ada pula anak muda. Namun, apakah gerangan yang terjadi pada mereka? Banyak diantara kita tidak mengetahui Misteri Alam Kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kali ini kami akan mengajak anda untuk menjelajahi alam kubur sebagaimana yang telah dikabarkan oleh rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdasaarkan wahyu dari Allah - Subhanahu Wa Ta’ala-, bukan dari takhayyul yang dibuat-buat oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Barra’ bin ‘Azib-radhiyallahu ‘anhu- dia berkata, ”Kami pernah mengiringi jenazah seorang dari sahabat anshar. Tatkala kami tiba di kuburan, ternyata penggalian lahat belum selesai. Akhirnya Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-duduk (menghadap kiblat), dan kami pun duduk di sekelilingnya. seolah-olah ada burung diatas kepala kami yang hinggap (karena dalam keadaan diam dan tenang). Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memegang kayu yang beliau pukulkan ke tanah.(Beliau memandang ke langit lalu memandang ke tanah, lalu beliau mendongakkan kepalanya dan menundukkannya tiga kali). Kemudian beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اِسْتَعِيْذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur”. Diucapkan dua atau tiga kali. (Kemudian Rasulullah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya Allah aku berlindung kepadamu dari azab kubur").tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba yang mu’min apabila meninggal dunia dan menghadapi akhirat maka turunlah para malaikat dari langit. Wajahnya putih seakan-akan di wajah mereka itu matahari. Mereka membawa kain kafan diantara kafan-kafan surga dan hanuth (parfum) diantara parfum-parfum surga hingga mereka duduk dari tempat yamg jaraknya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut -Alaihis Salam- hingga duduk di sisi kepalanya lalu dia berkata, “Wahai jiwa yang baik (dalam sebuah riwayat: yang tenang) keluarlah menuju kepada ampunan Allah dan keridhoan-Nya. (Rasulullah bersabda), “Maka keluarlah ruh itu mengalir seperti tetesan air dari wadahnya, lalu malaikat itu mengambilnya. Apabila malaikat maut telah mengambilnya, maka para malaikat itu tidak membiarkannya berada di tangan malaikat maut sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya, lalu mereka meletakkan di dalam kafan dan parfum tersebut.(Maka itulah makna firman Allah -Ta’ala-,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia diwafatkan oleh malaikat-malaikat kami; dan malaikat-malaikat kami itu tidak melalaikan kewajibannya". (QS. Al An’am:61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semerbak bau wangi seperti misik paling wangi yang didapati di muka bumi. Lalu mereka membawanya naik. Tidaklah mereka melewatkan ruh itu di hadapan sekumpulan para malaikat melainkan para malaikat itu mengatakan, Siapakah ruh yang wangi ini? Mereka menjawab, Fulan bin Fulan -disebut dengan nama-nama terbaik yang dulu mereka menyebutnya ketika di dunia- hingga mereka sampai di langit dunia. Lalu mereka minta agar pintu dibukakan untuk ruh itu. Maka dibukakan untuk mereka. Lalu para malaikat muqarrabun dari semua sisi langit itu mengantarkannya sampai ke langit yang berikutnya hingga berakhir di langit yang ke tujuh. Maka Allah -Ta’ala- berfirman, “Tulislah untuk hamba-Ku di ‘Illiyyin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (yaitu) Kitab yang bertulis. Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah)". (QS. Al-Muthoffifin:19-21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ditulislah kitabnya di Illiyyin. (Kemudian Allah berfirman lagi), ”Kembalikanlah ia ke bumi. sesungguhmya Aku (berjanji kepada mereka bahwa) dari bumilah Aku menciptakan mereka dan dari sana Aku kembalikan mereka, dan dari sana pula Aku mengeluarkan mereka lagi di kali yang lain”. Maka (ia dikembalikan ke bumi, dan) dikembalikan ruhnya itu ke dalam jasadnya.(Kata beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, sesungguhnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarnya, apabila mereka pulang meninggalkannya). Lalu ia didatangi oleh dua malaikat (yang keras hardikannya) seraya menghardiknya dan mendudukkannya. Lalu kedua malaikat itu bertanya kepadanya, ”Siapa Rabbmu?” Maka ia menjawab, ”Rabbku adalah Allah”. Keduanya bertanya lagi, ”Apa agamamu?” Dia menjawab, ”Agamaku Islam”. Lalu keduanya bertanya lagi, ”Siapakah orang yang diutus oleh Allah kepada kalian itu?" Dia menjawab, ”Beliau adalah utusan Allah”. Lalu keduanya bertanya lagi kepadanya, "Apa saja amalanmu?”Dia menjawab, ”Aku membaca Kitabullah, lalu aku beriman kepadanya, dan membenarkannya”. Lalu malaikat itu bertanya lagi, ”Siapa Rabbmu? dan apa agamamu? dan siapa nabimu?” Itulah akhir fitnah (ujian) atau pertanyaan yang diajukan kepada seorang mu’min. Maka itulah makna firman Allah -Ta’ala-,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat". (QS.Ibrahim: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia menjawab, ”Rabbku adalah Allah; agamaku Islam, dan nabiku adalah Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-“. Maka ada Penyeru (Allah) yang menyeru dari langit dengan mengatakan, ”Telah benar hamba-Ku. maka bentangkanlah permadani dari jannah (surga) dan kenakanlah untuknya dari pakaian jannah, serta bukakanlah untuknya pintu ke jannah”. Lalu sampai kepadanya hawa jannah dan bau wanginya, dan diluaskan kuburnya sejauh mata memandang. Datanglah kepadanya (di dalam sebuah riwayat: didatangkan kepadanya dalam bentuk) seorang laki-laki yang tampan wajahnya bagus pakaiannya, dan wangi baunya, lalu orang itu mengatakan, ”Berbahagialah dengan apa yang membuatmu senang, (berbahagialah dengan keridhan dari Allah -Ta’ala-dan jannah yang di dalamnya ada nikmat-nikmat yang abadi). Ini adalah hari yang dijanjikan kepada engkau”. Lalu ia mengatakan kepadanya, ”(Engkau telah diberi kabar gembira oleh Allah dengan kebaikan) Siapakah engkau ini? wajahmu menunjukkan wajah orang yang datang dengan kebaikan”. Orang itu menjawab, ”Aku adalah amalanmu yang shalih (Demi Allah tidaklah aku mengetahuimu, kecuali engkau orang yang bersegera melakukan ketaatan kepada Allah. Maka Allah membalasmu dengan yang terbaik)". Kemudian dibukakanlah untuknya pintu jannah dan pintu neraka. Lalu dikatakan kepadanya, ”Inilah tempat tinggalmu jika engkau durhaka kepada Allah. Kemudian Allah menggantikanmu dengan yang itu (jannah)”. Saat ia melihat apa yang ada di dalam jannah, ia mengatakan, ”Ya Rabbi, segerakanlah datangnya hari kiamat agar aku pulang lagi kepada keluargaku dan hartaku”. (Lalu dikatakan kepadanya:tenanglah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda , "Sesungguhnya seorang hamba yang kafir (di dalam sebuah riwayat, "yang fajir/durhaka") apabila ia meninggal dunia dan menghadapi akhirat, turunlah kepadanya para malaikat dari langit (yang keras lagi kejam) yang berwajah hitam-hitam. Mereka membawa pakaian kasar (dari neraka). lalu mereka duduk dari tempatnya sejauh mata memandang. kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di sisi kepalanya lalu ia berkata, ”Wahai jiwa yang jelek! Keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahannya!” Maka tercerai-berai ruh itu di dalam jasadnya, kemudian dicabut seperti dicabutnya besi berduri (banyak cabangnya) dari bulu yang basah lalu tertarik putus bersamanya urat-urat dan pembuluhnya. (Kemudian ia dilaknat oleh setiap malaikat yang ada di antara langit dan bumi dan semua malaikat yang ada di langit; ditutuplah pintu-pintu langit. Tidak ada di antara malaikat penjaga pintu itu, kecuali mereka memohon kepada Allah agar ruh itu jangan dinaikkan melalui tempat mereka). Lalu malaikat maut mangambilnya. Apabila malaikat maut telah mengambilnya, maka para malaikat itu tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya, lalu mereka meletakkannya di dalam kafan tersebut. Maka keluarlah dari ruh itu bau busuk seperti bangkai paling busuk yang didapati di muka bumi. Kemudian mereka membawanya naik. Tidaklah mereka melewatkan ruh itu di hadapan sekumpulan para malaikat, melainkan para malaikat itu mangatakan, “Siapakah ruh yang sangat busuk ini?" Mereka menjawab, Fulan bin Fulan – disebut dengan nama-nama terburuk yang dulu mereka menyebutnya ketika di dunia– hingga mereka sampai di langit dunia. Lalu mereka minta agar pintu dibukakan untuk ruh itu. Namun tidak dibukakan untuknya. Kemudian Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- membaca ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langitdan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS. Al-A’raf:40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, ”Tulislah kitabnya di Sijjin, di bumi yang paling bawah". (Kemudian Allah berfirman lagi), ”Kembalikanlah ia ke bumi. Sesungguhmya Aku (berjanji kepada mereka bahwa) dari bumilah Aku menciptakan mereka dan dari sana Aku kembalikan mereka, dan dari sana pula Aku mengeluarkan mereka lagi di kali yang lain”. Maka dilemparkan ruh (dari langit) dengan lemparan (yang membuat ruh itu kembali ke dalam jasadnya). Kemudian Rasulullah membaca,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”. (QS. Al-Hajj: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dikembalikan ruh itu ke dalam jasadnya. (Kata beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, ”Sesungguhnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya apabila mereka pulang meninggalkannya). Lalu ia didatangi oleh dua malaikat (yang keras hardikannya), lalu keduanya menghardiknya dan mendudukkannya. Kemudian kedua malaikat itu bertanya kepadanya, ”Siapa Rabbmu?" Maka ia menjawab, ”Haah…hah, saya tidak tahu”. Keduanya bertanya lagi, ”Apa agamamu?” Dia menjawab, ”Haah hah, saya tidak tahu”. Lalu keduanya bertanya lagi, ”apa komentarmu tentang orang yang diutus oleh Allah kepada kalian itu?” Dia tidak tahu namanya. Lalu dikatakan kepadanya, ”Muhammad!?" Maka ia menjawab, ”Haah…hah, saya tidak tahu (saya mendengar orang mengatakan begitu". Lalu dikatakan kepadanya, ”Engkau tidak tahu, dan tidak membaca?” Maka ada penyeru yang menyeru dari langit dengan mengatakan, ”Dia dusta. Maka bentangkanlah permadani dari neraka dan bukakanlah untuknya pintu ke neraka”. Lalu sampailah kepadanya panas neraka dan hembusan panasnya. Disempitkan kuburnya hingga bertautlah tulang rusuknya karenanya. Datanglah kepadanya (di dalam sebuah riwayat: didatangkan kepadanya dalam bentuk) seorang laki-laki yang buruk wajahnya buruk pakaiannya dan busuk baunya. Lalu orang itu mengatakan, ”Aku kabarkan kepadamu tentang sesuatu yang membuatmu menderita. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu”. Lalu ia mengatakan kepadanya, ”(Engkau telah diberikan kabar jelek oleh Allah)". Siapakah engkau ini? Wajahmu menunjukkan wajah orang yang datang dengan kejelekan”. Orang itu menjawab, ”Aku adalah amalanmu yang buruk. (Demi Allah, tidaklah aku mengetahuimu, kecuali engkau adalah orang yang berlambat-lambat dari melakukan ketaatan kepada Allah dan bergegas kepada kemaksiatan kepada Allah. Maka Allah membalasmu dengan yang terburuk)”. Kemudian didatangkan kepadanya seorang yang buta, tuli lagi bisu dengan membawa sebuah palu besar di tangannya! Kalau saja palu itu dipukulkan kepada gunung, tentu gunung itu menjadi debu. maka orang itu memukulkan palu itu kepadanya hingga ia menjadi debu. Kemudian Allah mengembalikannya lagi seperti semula. Lalu orang itu memukulnya sekali lagi hingga ia memekik keras dengan teriakan yang bisa didengar oleh segala yang ada, kecuali manusia dan jin. Kemudian dibukakan pintu neraka untuknya dan dibentangkan permadani dari neraka). Maka ia berkata:”Ya Rabbi! janganlah Engkau datangkan hari kiamat itu!” [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4753), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (107), Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (753), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (12059). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1630)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah perjalanan kita kali ini. Semoga bisa menjadi nasihat bagi kita sebagai calon penghuni kubur yang akan segera menyusul orang-orang yang ada dalam liang lahat. Maka persiapkanlah imanmu dan amal sholihmu dengan mempelajarilah agamamu sehingga engkau menjadi orang-orang yang selamat dari hardikan malaikat, dan himpitan kubur yang gelap. Ingatlah dunia dan umurmu singkat !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://almakassari.com/?p=242&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-386462591779448741?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/386462591779448741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=386462591779448741' title='44 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/386462591779448741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/386462591779448741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2008/03/misteri-alam-kubur.html' title='Misteri Alam Kubur'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>44</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-1213072910095821197</id><published>2008-03-18T19:56:00.000-07:00</published><updated>2008-03-18T19:58:06.121-07:00</updated><title type='text'>പെസന്</title><content type='html'>wahai saudaraku seiman&lt;br /&gt;yang mencintai kebenaran dan mengagungkan Islam&lt;br /&gt;yang tidak takut ancaman &lt;br /&gt;dan tidak lemah menghadapi tantangan&lt;br /&gt;bertaqwalah dengan sebenar-benarnya taqwa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-1213072910095821197?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/1213072910095821197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=1213072910095821197' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/1213072910095821197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/1213072910095821197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2008/03/blog-post.html' title='പെസന്'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-3815869989359469832</id><published>2008-03-08T12:59:00.000-08:00</published><updated>2008-03-08T13:01:41.948-08:00</updated><title type='text'>Nasehat bagi Para Muslimah Berkaitan dengan Internet</title><content type='html'>posted in Fatwa Ulama, Muslimah, Untaian Nasehat |&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Asy-Syaikh `Ubaid Al Jâbirî&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal Pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa akhwat menulis beberapa makalah ilmiah (tentang agama –pent.) di beberapa website, mereka membantah para penulis berkenaan dengan pernyataan-pernyataan mereka. Apa pendapat syaikh tentang perkara ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nasehatkan kepada seluruh muslimah, terutama para akhwat salafiyah untuk tidak larut dalam permasalahan ini karena:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Apa yang dia lakukan ini menyita waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Perkara ini justru mengekspos dirinya untuk menjadi ejekan dan objek hiburan bagi orang-orang yang ngawur dan berpenyakit hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apabila dia memang harus melakukan perkara ini, maka hendaknya dia membekali diri dengan mendengar taklim-taklim ilmiyah dari orang-orang yang dikenal keilmuan, kecerdasan, dan pengamalannya terhadap dien. Demikian juga, tidak ada yang mencegahnya untuk menyebarkan ucapan serta fatwa-fatwa para ulama yang mulia sehingga ikhwan dan akhawat lainnya bisa memperoleh manfaat darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal Kedua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hukumnya seorang akhwat berbicara dengan ikhwan atau sebaliknya melalui internet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana dirimu dari jawaban kami? Kami nasehatkan untuk meninggalkan perkara ini, meninggalkan urusan diskusi, saling bertukar informasi, persepsi, dan urusan perasaan ini sebagaimana yang telah kusebutkan sebelumnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ini sebagai tambahan untuk jawaban dari pertanyaan Anda, aku katakan bahwa banyak laki-laki yang berpenyakit hatinya masuk ke program-program khusus bagi wanita (mungkin yang dimaksudkan oleh Asy Syaikh seperti mailing list, forum diskusi, atau chatting room yang dikhususkan bagi wanita, wallahu a’lam – pent.) dengan nama wanita, seperti ummu fulan dst., ummu ‘allan dst. Sungguh! Dia menggunakan nama perempuan, dan tujuannya adalah untuk bersenang-senang dengan cara yang membahayakan para muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diterjemahkan untuk blog http://ulamasunnah.wordpress.com dari http://fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&amp;ID=607)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/03/06/&lt;br /&gt;nasehat-bagi-para-muslimah-berkaitan-dengan-internet&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-3815869989359469832?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/3815869989359469832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=3815869989359469832' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/3815869989359469832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/3815869989359469832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2008/03/nasehat-bagi-para-muslimah-berkaitan.html' title='Nasehat bagi Para Muslimah Berkaitan dengan Internet'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-5707563062209795497</id><published>2008-03-08T12:19:00.000-08:00</published><updated>2008-03-08T12:59:26.388-08:00</updated><title type='text'>Pakaian Wanita dalam Shalât</title><content type='html'>posted in Hukum Fiqh &amp; Ibadah, Muslimah |&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Al-Ustâdzah Ummu Ishâq Zulfâ Husein Al-Atsariyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian wanita saat mengerjakan shalat memiliki aturan tersendiri. Tiap wanita hendaknya memperhatikan pakaiannya ketika shalat, tidak boleh seenaknya, meski shalatnya dilakukan sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa jahiliyah, kata Ibnu ‘Abbas, wanita biasa thawaf di Ka`bah dalam keadaan tanpa busana. Yang tertutupi hanyalah bagian kemaluannya. Mereka thawaf seraya bersyair:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini tampak tubuhku sebagiannya atau pun seluruhnya&lt;br /&gt;Maka apa yang nampak darinya tidaklah daku halalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka turunlah ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai anak Adam kenakanlah zinah1 kalian setiap kali menuju masjid.” (Al-A`raf: 31) [Shahih, HR. Muslim no. 3028]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Dulunya orang-orang jahiliyah thawaf di Ka`bah dalam keadaan telanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka dan membiarkannya tergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalu lalang. Mereka tidak lagi mengambil pakaian tersebut untuk selamanya, hingga usang dan rusak. Demikian kebiasaan jahiliyah ini berlangsung hingga datanglah Islam dan Allah memerintahkan mereka untuk menutup aurat sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai anak Adam kenakanlah zinah kalian setiap kali shalat di masjid.” (Al-A`raf: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Ka`bah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 1622 dan Muslim no. 1347) [Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, 18/162-163]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas selain disebutkan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah pada nomor di atas, pada kitab Al-Haj bab “Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Baitullah dan tidak boleh orang musyrik melaksanakan haji”, disinggung pula oleh beliau dalam kitab Ash-Shalah, bab “Wajibnya shalat dengan mengenakan pakaian.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam syarahnya (penjelasan) terhadap hadits di atas dalam kitab Ash-Shalah berkata: “Sisi pendalilan hadits ini terhadap judul bab yang diberikan Al-Imam Al-Bukhari adalah bila dalam thawaf dilarang telanjang maka pelarangan hal ini di dalam shalat lebih utama lagi karena apa yang disyaratkan di dalam shalat sama dengan apa yang disyaratkan di dalam thawaf bahkan dalam shalat ada tambahan. Jumhur berpendapat menutup aurat termasuk syarat shalat.” (Fathul Bari, 1/582)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam tafsirnya: “Mereka diperintah untuk mengenakan zinah ketika datang ke masjid untuk melaksanakan shalat atau thawaf di Baitullah. Ayat ini dijadikan dalil untuk menunjukkan wajibnya menutup aurat di dalam shalat. Demikian pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama. Bahkan menutup aurat ini wajib dalam segala keadaan sekalipun seseorang shalat sendirian sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih.” (Fathul Qadir, 2/200).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perbedaan antara batasan aurat yang harus ditutup di dalam shalat dengan aurat yang harus ditutup di hadapan seseorang yang tidak halal untuk melihatnya, sebagaimana ada perbedaan yang jelas antara aurat laki-laki di dalam shalat dengan aurat wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “Mengenakan pakaian di dalam shalat adalah dalam rangka menunaikan hak Allah maka tidak boleh seseorang shalat ataupun thawaf dalam keadaan telanjang, walaupun ia berada sendirian di malam hari. Maka dengan ini diketahuilah bahwa mengenakan pakaian di dalam shalat bukan karena ingin menutup tubuh (berhijab) dari pandangan manusia, karena ada perbedaan antara pakaian yang dikenakan untuk berhijab dari pandangan manusia dengan pakaian yang dikenakan ketika shalat.” (Majmu` Fatawa, 22/113-114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan di sini, menutup aurat di dalam shalat tidaklah cukup dengan berpakaian ala kadarnya yang penting menutup aurat, tidak peduli pakaian itu terkena najis, bau dan kotor misalnya. Namun perlu memperhatikan sisi keindahan dan kebersihan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya memerintahkan untuk mengenakan zinah (pakaian sebagai perhiasan) ketika shalat, sebagaimana dalam ayat di atas. Sehingga sepantasnya seorang hamba shalat dengan mengenakan pakaiannya yang paling bagus dan paling indah karena dia akan ber-munajat dengan Rabb semesta alam dan berdiri di hadapan-Nya. Demikian secara makna dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Al-Ikhtiyarat hal. 43, sebagaimana dinukil dalam Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni‘, 2/145.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah membawakan beberapa syarat pakaian yang dikenakan dalam shalat. Ringkasnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Tidak menampakkan kulit tubuh yang ada di balik pakaian&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bersih dari najis&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bukan pakaian yang haram untuk dikenakan seperti sutera bagi laki-laki, atau pakaian yang melampaui/melebihi mata kaki bagi laki-laki (isbal).&lt;br /&gt;   4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Pakaian tersebut tidak membuat bahaya bagi pemakainya. (Lihat pembahasan dan dalil-dalil masalah ini dalam Asy-Syarhul Mumti‘, 2/148-151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Tubuh yang Harus Ditutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Al-Khaththabi rahimahullah: “Ulama berbeda pendapat tentang bagian tubuh yang harus ditutup oleh wanita merdeka (bukan budak) dalam shalatnya. Al-Imam Asy-Syafi`i dan Al-Auza`i berkata: ‘Wanita menutupi seluruh badannya ketika shalat kecuali wajahnya dan dua telapak tangannya.’ Diriwayatkan hal ini dari Ibnu Abbas dan ‘Atha. Lain lagi yang dikatakan Abu Bakar bin Abdirrahman bin Al-Harits bin Hisyam: ‘Semua anggota tubuh wanita merupakan aurat sampaipun kukunya.’ Al-Imam Ahmad sejalan dengan pendapat ini, beliau menyatakan: ‘Dituntunkan bagi wanita untuk melaksanakan shalat dalam keadaan tidak terlihat sesuatupun dari anggota tubuhnya tidak terkecuali kukunya’.” (Ma`alimus Sunan, 2/343)2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dalam permasalahan ini tidak ada dalil yang jelas yang bisa menjadi pegangan, kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. (Asy-Syarhul Mumti`, 2/156). Oleh karena itu Ibnu Taimiyyah rahimahullah berpendapat seluruh tubuh wanita merdeka itu aurat (di dalam shalatnya) kecuali bagian tubuh yang biasa nampak darinya ketika di dalam rumahnya, yaitu wajah, dua telapak tangan dan telapak kaki. (Majmu` Fatawa, 22/109-120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian ketika seorang wanita shalat sendirian atau di hadapan sesama wanita atau di hadapan mahramnya dibolehkan baginya untuk membuka wajah, dua telapak tangan dan dua telapak kakinya. (Jami’ Ahkamin Nisa, 1/333-334). Walaupun yang lebih utama bila ia menutup dua telapak kakinya. (Majmu‘ Fatawa wa Rasail Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bila ada laki-laki yang bukan mahramnya maka ia menutup seluruh tubuhnya termasuk wajah. (Asy-Syarhul Mumti‘, 2/157). (bagi yang berpendapat wajibnya menutup wajah, red)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian Wanita di Dalam Shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekitar kita banyak kita jumpai wanita shalat dengan mengenakan mukena/rukuh yang tipis transparan sehingga terlihat rambut panjangnya tergerai di balik mukena. Belum lagi pakaian yang dikenakan di balik mukena, terlihat tipis, tanpa lengan, pendek dan ketat menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya. Pakaian seperti ini jelas tidak bisa dikatakan menutup aurat. Bila ada yang berdalih, “Saya mengenakan pakaian shalat yang seperti itu hanya di dalam rumah, sendirian di dalam kamar dan lampu saya padamkan!” Maka kita katakan pakaian shalat seperti itu (mukena ditambah pakaian minim di baliknya) tidak boleh dikenakan walaupun ketika shalat sendirian, tanpa ada seorang pun yang melihat, karena pakaian demikian tidak mencukupi untuk menutup aurat sementara wanita ketika shalat tidak boleh terlihat bagian tubuhnya kecuali wajah, telapak tangan dan telapak kaki. (Lihat ucapan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu` Fatawa sebagaimana dinukilkan di atas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi pelarangannya bahkan pengharamannya bila pakaian seperti ini dipakai keluar rumah untuk shalat di masjid atau di hadapan laki-laki yang bukan mahram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila demikian, bagaimana sebenarnya pakaian yang boleh dikenakan oleh wanita di dalam shalatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan pakaian wanita di dalam shalat ini datang penyebutannya dalam beberapa hadits yang marfu‘ namun kedudukan hadits-hadits tersebut diperbincangkan oleh ulama, seperti hadits Aisyah radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah haidh (baligh) kecuali bila ia mengenakan kerudung (dalam shalatnya).” (HR. Abu Dawud no. 641 dan selainnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini kata Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam At-Talkhisul Habir (2/460) dianggap cacat oleh Ad-Daraquthni karena mauquf-nya (hadits yang berhenti hanya sampai shahabat)), sedangkan Al-Hakim menganggapnya mursal (hadits yang terputus antara tabi’in dan Rasulullah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah wanita boleh shalat dengan mengenakan dira`3 dan kerudung tanpa izar4?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Boleh), apabila dira`nya itu luas/lapang hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.” (HR. Abu Dawud no. 640)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Ummu Salamah ini tidak shahih sanadnya baik secara marfu’ maupun mauquf karena hadits ini berporos pada Ummu Muhammad bin Zaid, sementara dia rawi yang majhul (tidak dikenal). Demikian diterangkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Tamamul Minnah, hal. 161.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, ada riwayat-riwayat yang shahih dari para shahabat dalam pemasalahan ini sebagaimana akan kita baca berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrazzaq Ash-Shan‘ani rahimahullah meriwayatkan dari jalan Ummul Hasan, ia berkata: “Aku melihat Ummu Salamah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan mengenakan dira‘ dan kerudung.” (Al-Mushannaf, 3/128)5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubaidullah Al-Khaulani, anak asuh Maimunah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Maimunah shalat dengan memakai dira` dan kerudung tanpa izar. (Diriwayatkan oleh Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf)6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada atsar lain dalam permasalahan ini yang kesemuanya menunjukkan shalatnya wanita dengan mengenakan dira‘ dan kerudung adalah perkara yang biasa dan dikenal di kalangan para shahabat, dan ini merupakan pakaian yang mencukupi bagi wanita untuk menutupi auratnya di dalam shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila wanita itu ingin lebih sempurna dalam berpakaian ketika shalat maka ia menambahkan izar atau jilbab pada dira‘ dan kerudungnya. Dan ini yang lebih sempurna dan lebih utama, kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah. Dengan dalil riwayat dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Wanita shalat dengan mengenakan tiga pakaian yaitu dira‘, kerudung dan izar. (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan isnad yang shahih, lihat Tamamul Minnah, hal. 162).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumhur ulama sepakat, pakaian yang mencukupi bagi wanita dalam shalatnya adalah dira‘ dan kerudung. (Bidayatul Mujtahid, hal. 100).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: “Disenangi bagi wanita untuk shalat mengenakan dira` yaitu pakaian yang sama dengan gamis hanya saja dira` ini lebar dan panjang menutupi sampai kedua telapak kaki, kemudian mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan lehernya, dilengkapi dengan jilbab yang diselimutkan ke tubuhnya di atas dira`. Demikian yang diriwayatkan dari ‘Umar, putra beliau (Ibnu ‘Umar), ‘Aisyah, Ubaidah As-Salmani dan ‘Atha. Dan ini merupakan pendapatnya Al-Imam Asy-Syafi`i rahimahullah, beliau berkata: “Kebanyakan ulama bersepakat untuk pemakaian dira` dan kerudung, bila menambahkan pakaian lain maka itu lebih baik dan lebih menutup.” (Al-Mughni, 1/351)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Disenangi bagi wanita untuk shalat dengan mengenakan tiga pakaian, dira`, kerudung dan jilbab yang digunakan untuk menyelubungi tubuhnya atau kain sarung di bawah dira` atau sirwal (celana panjang yang sangat lapang dan lebar) karena lebih utama daripada sarung. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Wanita shalat dengan mengenakan dira`, kerudung dan milhafah.’ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah shalat dengan mengenakan kerudung, izar dan dira`, ia memanjangkan izar-nya untuk berselubung dengannya. Ia pernah berkata: ‘Wanita yang shalat harus mengenakan tiga pakaian bila ia mendapatkannya yaitu kerudung, izar dan dira`.’ (Syarhul ‘Umdah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 4/322)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah Shalat dengan Satu Pakaian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam shalat, wanita dituntunkan untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali bagian yang boleh terlihat, walaupun ia hanya mengenakan satu pakaian yang menutupi kepala, dua telapak tangan, dua telapak kaki dan seluruh tubuhnya kecuali wajah. Seandainya ia berselimut dengan satu kain sehingga seluruh tubuhnya tertutupi kecuali muka, dua telapak tangan dan telapak kakinya maka ini mencukupi baginya menurut pendapat yang mengatakan dua telapak tangan dan telapak kaki tidak termasuk bagian tubuh yang wajib ditutup. (Asy-Syarhul Mumti‘, 2/165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ikrimah: “Seandainya seorang wanita shalat dengan menutupi tubuhnya dengan satu pakaian/kain maka hal itu dibolehkan.” (Shahih Al-Bukhari, kitab Ash-Shalah bab Berapa pakaian yang boleh dikenakan wanita ketika shalat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menyatakan: “Ibnul Mundzir setelah menghikayatkan pendapat jumhur bahwa wajib bagi wanita untuk shalat memakai dira` dan kerudung, beliau berkata: ‘Yang diinginkan dengan pendapat tersebut adalah ketika shalat seorang wanita harus menutupi tubuh dan kepalanya. Seandainya pakaian yang dikenakan itu lapang/lebar lalu ia menutupi kepalanya dengan sisa/kelebihan pakaiannya maka hal itu dibolehkan.’ Ibnul Mundzir juga berkata: ‘Apa yang kami riwayatkan dari Atha’ bahwasanya ia berkata: ‘Wanita shalat dengan mengenakan dira`, kerudung dan izar’, demikian pula riwayat yang semisalnya dari Ibnu Sirin dengan tambahan milhafah, maka aku menyangka hal ini dibawa pemahamannya kepada istihbab7.” (Fathul Bari, 1/602-603)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahid dan ‘Atha pernah ditanya tentang wanita yang memasuki waktu shalat sementara ia tidak memiliki kecuali satu baju, lalu apa yang harus dilakukannya? Mereka menjawab: “Ia berselimut dengannya.” Demikian pula yang dikatakan Muhammad bin Sirin. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/226)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian apa yang dapat kami nukilkan dalam permasalahan ini untuk pembaca. Semoga memberi manfaat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu ta‘ala a‘lam bish shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=121&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-5707563062209795497?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/5707563062209795497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=5707563062209795497' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/5707563062209795497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/5707563062209795497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2008/03/pakaian-wanita-dalam-shalt.html' title='Pakaian Wanita dalam Shalât'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-755440330354450507</id><published>2008-03-04T12:17:00.000-08:00</published><updated>2008-03-04T12:18:22.566-08:00</updated><title type='text'>Riwayat Hidup Imam Syafi’i</title><content type='html'>PENGENALAN&lt;br /&gt;Nama dan Keturunan Imam Al-Shafi’i&lt;br /&gt;Nama beliau ialah Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin ‘Uthman bin Shafi’ bin Al-Saib bin ‘Ubaid bin Yazid bin Hashim bin ‘Abd al-Muttalib bin ’Abd Manaf bin Ma’n bin Kilab bin Murrah bin Lu’i bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin Al-Nadr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrakah bin Ilias bin Al-Nadr bin Nizar bin Ma’d bin ‘Adnan bin Ud bin Udad.&lt;br /&gt;Keturunan beliau bertemu dengan titisan keturunan Rasulullah s.a.w pada ‘Abd Manaf. Ibunya berasal dari Kabilah Al-Azd, satu kabilah Yaman yang masyhur.&lt;br /&gt;Penghijrahan ke Palestine&lt;br /&gt;Sebelum beliau dilahirkan, keluarganya telah berpindah ke Palestine kerana beberapa keperluan dan bapanya terlibat di dalam angkatan tentera yang ditugaskan untuk mengawal perbatasan Islam di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran dan Kehidupannya&lt;br /&gt;Menurut pendapat yang masyhur, beliau dilahirkan di Ghazzah – Palestine pada tahun 150 Hijrah. Tidak lama sesudah beliau dilahirkan bapanya meninggal dunia. Tinggallah beliau bersama-sama ibunya sebagai seorang anak yatim. Kehidupan masa kecilnya dilalui dengan serba kekurangan dan kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGEMBARAAN IMAM AL-SHAFI’I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Imam As-Shafi’i (150H – 204H ) merupakan satu siri pengembaraan yang tersusun di dalam bentuk yang sungguh menarik dan amat berkesan terhadap pembentukan kriteria ilmiah dan popularitinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Makkah ( 152H – 164H )&lt;br /&gt;Pengembaraan beliau bermula sejak beliau berumur dua tahun lagi (152H), ketika itu beliau dibawa oleh ibunya berpindah dari tempat kelahirannya iaitu dari Ghazzah, Palestine ke Kota Makkah untuk hidup bersama kaum keluarganya di sana.&lt;br /&gt;Di kota Makkah kehidupan beliau tidak tetap kerana beliau dihantar ke perkampungan Bani Huzail, menurut tradisi bangsa Arab ketika itu bahawa penghantaran anak-anak muda mereka ke perkampungan tersebut dapat mewarisi kemahiran bahasa ibunda mereka dari sumber asalnya yang belum lagi terpengaruh dengan integrasi bahasa-bahasa asing seperti bahasa Parsi dan sebagainya. Satu perkara lagi adalah supaya pemuda mereka dapat dibekalkan dengan Al-Furusiyyah (Latihan Perang Berkuda). Kehidupan beliau di peringkat ini mengambil masa dua belas tahun ( 152 – 164H ).&lt;br /&gt;Sebagai hasil dari usahanya, beliau telah mahir dalam ilmu bahasa dan sejarah di samping ilmu-ilmu yang berhubung dengan Al-Quran dan Al-Hadith. Selepas pulang dari perkampungan itu beliau meneruskan usaha pembelajarannya dengan beberapa mahaguru di Kota Makkah sehingga beliau menjadi terkenal. Dengan kecerdikan dan kemampuan ilmiahnya beliau telah dapat menarik perhatian seorang mahagurunya iaitu Muslim bin Khalid Al-Zinji yang mengizinkannya untuk berfatwa sedangkan umur beliau masih lagi di peringkat remaja iaitu lima belas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Madinah ( 164H – 179H )&lt;br /&gt;Sesudah itu beliau berpindah ke Madinah dan menemui Imam Malik. Beliau berdamping dengan Imam Malik di samping mempelajari ilmunya sehinggalah Imam Malik wafat pada tahun 179H, iaitu selama lima belas tahun.&lt;br /&gt;Semasa beliau bersama Imam Malik hubungan beliau dengan ulama-ulama lain yang menetap di kota itu dan juga yang datang dari luar berjalan dengan baik dan berfaedah. Dari sini dapatlah difahami bahawa beliau semasa di Madinah telah dapat mewarisi ilmu bukan saja dari Imam Malik tetapi juga dari ulama-ulama lain yang terkenal di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Yaman ( 179H – 184H )&lt;br /&gt;Apabila Imam Malik wafat pada tahun 179H, kota Madinah diziarahi oleh Gabenor Yaman. Beliau telah dicadangkan oleh sebahagian orang-orang Qurasyh Al-Madinah supaya mencari pekerjaan bagi Al-Shafi’i. Lalu beliau melantiknya menjalankan satu pekerjaan di wilayah Najran.&lt;br /&gt;Sejak itu Al-Shafi’i terus menetap di Yaman sehingga berlaku pertukaran Gabenor wilayah itu pada tahun 184H. Pada tahun itu satu fitnah ditimbulkan terhadap diri Al-Shafi’i sehingga beliau dihadapkan ke hadapan Harun Al-Rashid di Baghdad atas tuduhan Gabenor baru itu yang sering menerima kecaman Al-Shafi’i kerana kekejaman dan kezalimannya. Tetapi ternyata bahawa beliau tidak bersalah dan kemudiannya beliau dibebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Baghdad ( 184H – 186H )&lt;br /&gt;Peristiwa itu walaupun secara kebetulan, tetapi membawa erti yang amat besar kepada Al-Shafi’i kerana pertamanya, ia berpeluang menziarahi kota Baghdad yang terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan dan para ilmuan pada ketika itu. Keduanya, ia berpeluang bertemu dengan Muhammad bin Al-Hassan Al-Shaibani, seorang tokoh Mazhab Hanafi dan sahabat karib Imam Abu Hanifah dan lain-lain tokoh di dalam Mazhab Ahl al-Ra’y.&lt;br /&gt;Dengan peristiwa itu terbukalah satu era baru dalam siri pengembaraan Al-Imam ke kota Baghdad yang dikatakan berlaku sebanyak tiga kali sebelum beliau berpindah ke Mesir.&lt;br /&gt;Dalam pengembaraan pertama ini Al-Shafi’i tinggal di kota Baghdad sehingga tahun 186H. Selama masa ini (184 – 186H) beliau sempat membaca kitab-kitab Mazhab Ahl al-Ra’y dan mempelajarinya, terutamanya hasil tulisan Muhammad bin Al-Hassan Al-Shaibani, di samping membincanginya di dalam beberapa perdebatan ilmiah di hadapan Harun Al-Rashid sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Makkah ( 186H – 195H )&lt;br /&gt;Pada tahun 186H, Al-Shafi’i pulang ke Makkah membawa bersamanya hasil usahanya di Yaman dan Iraq dan beliau terus melibatkan dirinya di bidang pengajaran. Dari sini muncullah satu bintang baru yang berkerdipan di ruang langit Makkah membawa satu nafas baru di bidang fiqah, satu nafas yang bukan Hijazi, dan bukan pula Iraqi dan Yamani, tetapi ia adalah gabungan dari ke semua aliran itu. Sejak itu menurut pendapat setengah ulama, lahirlah satu Mazhab Fiqhi yang baru yang kemudiannya dikenali dengan Mazhab Al-Shafi’i.&lt;br /&gt;Selama sembilan tahun (186 – 195H) Al-Shafi’i menghabiskan masanya di kota suci Makkah bersama-sama para ilmuan lainnya, membahas, mengajar, mengkaji di samping berusaha untuk melahirkan satu intisari dari beberapa aliran dan juga persoalan yang sering bertentangan yang beliau temui selama masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Baghdad ( 195H – 197H )&lt;br /&gt;Dalam tahun 195H, untuk kali keduanya Al-Shafi’i berangkat ke kota Baghdad. Keberangkatannya kali ini tidak lagi sebagai seorang yang tertuduh, tetapi sebagai seorang alim Makkah yang sudah mempunyai personaliti dan aliran fiqah yang tersendiri. Catatan perpindahan kali ini menunjukkan bahawa beliau telah menetap di negara itu selama dua tahun (195 – 197H).&lt;br /&gt;Di dalam masa yang singkat ini beliau berjaya menyebarkan “Method Usuli” yang berbeza dari apa yang dikenali pada ketika itu. Penyebaran ini sudah tentu menimbulkan satu respon dan reaksi yang luarbiasa di kalangan para ilmuan yang kebanyakannya adalah terpengaruh dengan method Mazhab Hanafi yang disebarkan oleh tokoh utama Mazhab itu, iaitu Muhammad bin Al-Hasan Al-Shaibani.&lt;br /&gt;Kata Al-Karabisi : “Kami sebelum ini tidak kenal apakah (istilah) Al-Kitab, Al- Sunnah dan Al-Ijma’, sehinggalah datangnya Al-Shafi’i, beliaulah yang menerangkan maksud Al-Kitab, Al-Sunnah dan Al-Ijma’”.&lt;br /&gt;Kata Abu Thaur : “Kata Al-Shafi’i : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyebut (di dalam kitab-Nya) mengenai sesuatu maksud yang umum tetapi Ia menghendaki maksudnya yang khas, dan Ia juga telah menyebut sesuatu maksud yang khas tetapi Ia menghendaki maksudnya yang umum, dan kami (pada ketika itu) belum lagi mengetahui perkara-perkara itu, lalu kami tanyakan beliau …”&lt;br /&gt;Pada masa itu juga dikatakan beliau telah menulis kitab usulnya yang pertama atas permintaan ‘Abdul Rahman bin Mahdi, dan juga beberapa penulisan lain dalam bidang fiqah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Makkah dan Mesir ( 197H – 204H )&lt;br /&gt;Sesudah dua tahun berada di Baghdad (197H) beliau kembali ke Makkah. Pada tahun 198H, beliau keluar semula ke Baghdad dan tinggal di sana hanya beberapa bulan sahaja. Pada awal tahun 199H, beliau berangkat ke Mesir dan sampai ke negara itu dalam tahun itu juga. Di negara baru ini beliau menetap sehingga ke akhir hayatnya pada tahun 204H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FATWA-FATWA IMAM AL-SHAFI’I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpindahan beliau ke Mesir mengakibatkan satu perubahan besar dalam Mazhabnya. Kesan perubahan ini melibatkan banyak fatwanya semasa beliau di Baghdad turut sama berubah. Banyak kandungan kitab-kitab fiqahnya yang beliau hasilkan di Baghdad disemak semula dan diubah. Dengan ini terdapat dua fatwa bagi As-Shafi’i, fatwa lama dan fatwa barunya. Fatwa lamanya ialah segala fatwa yang diucapkan atau ditulisnya semasa beliau berada di Iraq, fatwa barunya ialah fatwa yang diucapkan atau ditulisnya semasa beliau berada di Mesir. Kadang-kadang dipanggil fatwa lamanya dengan Mazhabnya yang lama atau Qaul Qadim dan fatwa barunya dinamakan dengan Mazhab barunya atau Qaul Jadid.&lt;br /&gt;Di sini harus kita fahami bahawa tidak kesemua fatwa barunya menyalahi fatwa lamanya dan tidak pula kesemua fatwa lamanya dibatalkannya, malahan ada di antara fatwa barunya yang menyalahi fatwa lamanya dan ada juga yang bersamaan dengan yang lama. Kata Imam Al-Nawawi : “Sebenarnya sebab dikatakan kesemua fatwa lamanya itu ditarik kembali dan tidak diamalkannya hanyalah berdasarkan kepada ghalibnya sahaja”.&lt;br /&gt;Imam As-Shafi’i pulang ke pangkuan Ilahi pada tahun 204H, tetapi kepulangannya itu tidaklah mengakibatkan sebarang penjejasan terhadap perkembangan aliran Fiqhi dan Usuli yang diasaskannya. Malahan asas itu disebar dan diusaha-kembangkan oleh para sahabatnya yang berada di Al-Hijaz, Iraq dan Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARA SAHABAT IMAM AL-SHAFI’I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara para sahabat Imam Al-Shafi’i yang terkenal di Al-Hijaz (Makkah dan Al-Madinah) ialah :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abu Bakar Al-Hamidi, ‘Abdullah bun Al-Zubair Al-Makki yang wafat pada tahun 219H.&lt;br /&gt;2. Abu Wahid Musa bin ‘Ali Al-Jarud Al-Makki yang banyak menyalin kitab-kitab Al-Shafi’i. Tidak diketahui tarikh wafatnya.&lt;br /&gt;3. Abu Ishak Ibrahim bin Muhammad bin Al-‘Abbasi bin ‘Uthman bin Shafi ‘Al-Muttalibi yang wafat pada tahun 237H.&lt;br /&gt;4. Abu Bakar Muhammad bin Idris yang tidak diketahui tarikh wafatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di Iraq pula kita menemui ramai para sahabat Imam Al-Shafi’i yang terkenal, di antara mereka ialah :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abu ‘Abdullah Ahmad bin Hanbal, Imam Mazhab yang keempat. Beliau wafat pada tahun 241H.&lt;br /&gt;2. Abu ‘Ali Al-Hasan bin Muhammad Al-Za’farani yang wafat pada tahun 249H.&lt;br /&gt;3. Abu Thaur Ibrahim bin Khalid Al-Kalbi yang wafat pada tahun 240H.&lt;br /&gt;4. Al-Harith bin Suraij Al-Naqqal, Abu ‘Umar. Beliau wafat pada tahun 236H.&lt;br /&gt;5. Abu ‘Ali Al-Husain bin ‘Ali Al-Karabisi yang wafat pada tahun 245H.&lt;br /&gt;6. Abu ‘Abdul RahmanAhmad bin Yahya Al-Mutakallim. Tidak diketahui tarikh wafatnya.&lt;br /&gt;7. Abu Zaid ‘Abdul Hamid bin Al-Walid Al-Misri yang wafat pada tahun 211H.&lt;br /&gt;8. Al-Husain Al-Qallas. Tidak diketahui tarikh wafatnya.&lt;br /&gt;9. ‘Abdul ‘Aziz bin Yahya Al-Kannani yang wafat pada tahun 240H.&lt;br /&gt;10. ‘Ali bin ‘Abdullah Al-Mudaiyini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mesir pula terdapat sebilangan tokoh ulama yang kesemua mereka adalah sahabat Imam Al-Shafi’i, seperti :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abu Ibrahim Isma’il bin Yahya bin ‘Amru bin Ishak Al-Mudhani yang wafat pada tahun 264H.&lt;br /&gt;2. Abu Muhammad Al-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi yang wafat pada tahun 270H.&lt;br /&gt;3. Abu Ya’kub Yusuf bin Yahya Al-Misri Al-Buwaiti yang wafat pada tahun 232H.&lt;br /&gt;4. Abu Najib Harmalah bin Yahya Al-Tajibi yang wafat pada tahun 243H.&lt;br /&gt;5. Abu Musa Yunus bin ‘Abdul A’la Al-Sadaghi yang wafat pada tahun 264H.&lt;br /&gt;6. Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam Al-Misri yang wafat pada tahun 268H.&lt;br /&gt;7. Al-Rabi’ bin Sulaiman Al-Jizi yang wafat pada tahun 256H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari usaha gigih mereka, Mazhab Al-Shafi’i tersebar dan berkembang luas di seluruh rantau Islam di zaman-zaman berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERKEMBANGAN MAZHAB IMAM AL-SHAFI’I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibn Al-Subki bahawa Mazhab Al-Shafi’I telah berkembang dan menjalar pengaruhnya di merata-rata tempat, di kota dan di desa, di seluruh rantau negara Islam. Pengikut-pengikutnya terdapat di Iraq dan kawasan-kawasan sekitarnya, di Naisabur, Khurasan, Muru, Syria, Mesir, Yaman, Hijaz, Iran dan di negara-negara timur lainnya hingga ke India dan sempadan negara China. Penyebaran yang sebegini meluas setidak-tidaknya membayangkan kepada kita sejauh mana kewibawaan peribadi Imam Al-Shafi’i sebagai seorang tokoh ulama dan keunggulan Mazhabnya sebagai satu-satunya aliran fiqah yang mencabar aliran zamannya. IMAM AL-SHAFI’I DAN PENULISANNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permulaan Mazhabnya&lt;br /&gt;Sebenarnya penulisan Imam Al-Shafi’i secara umumnya mempunyai pertalian yang rapat dengan pembentukan Mazhabnya. Menurut Muhammad Abu Zahrah bahawa pwmbentukan Mazhabnya hanya bermula sejak sekembalinya dari kunjungan ke Baghdad pada tahun 186H. Sebelum itu Al-Shafi’i adalah salah seorang pengikut Imam Malik yang sering mempertahankan pendapatnya dan juga pendapat fuqaha’ Al-Madinah lainnya dari kecaman dan kritikan fuqaha’ Ahl Al-Ra’y. Sikapnya yang sebegini meyebabkan beliau terkenal dengan panggilan “Nasir Al-Hadith”.&lt;br /&gt;Detik terawal Mazhabnya bermula apabila beliau membuka tempat pengajarannya (halqah) di Masjid Al-Haram. Usaha beliau dalam memperkembangkan Mazhabnya itu bolehlah dibahagikan kepada tiga peringkat :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peringkat Makkah (186 – 195H)&lt;br /&gt;2. Peringkat Baghdad (195 – 197H)&lt;br /&gt;3. Peringkat Mesir (199 – 204H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap peringkat diatas beliau mempunyai ramai murid dan para pengikut yang telah menerima dan menyebar segala pendapat ijtihad dan juga hasil kajiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan Pertamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang agak sulit untuk menentukan apakah kitab pertama yang dihasilkan oleh Al-Shafi’i dan di mana dan selanjutnya apakah kitab pertama yang dihasilkannya dalam Ilmu Fiqah dan di mana? Kesulitan ini adalah berpunca dari tidak adanya keterangan yang jelas mengenai kedua-dua perkara tersebut. Pengembaraannya dari satu tempat ke satu tempat yang lain dan pulangnya semula ke tempat awalnya tambah menyulitkan lagi untuk kita menentukan di tempat mana beliau mulakan usaha penulisannya.&lt;br /&gt;Apa yang kita temui – sesudah kita menyemak beberapa buah kitab lama dan baru yang menyentuh sejarah hidupnya, hanya beberapa tanda yang menunjukkan bahawa kitabnya “Al-Risalah” adalah ditulis atas permintaan ‘Abdul Rahman bin Mahdi, iaitu sebuah kitab di dalam Ilmu Usul, pun keterangan ini tidak juga menyebut apakah kitab ini merupakan hasil penulisannya yang pertama atau sebelumnya sudah ada kitab lain yang dihasilkannya. Di samping adanya pertelingkahan pendapat di kalangan ‘ulama berhubung dengan tempat di mana beliau menghasilkan penulisan kitabnya itu. Ada pendapat yang mengatakan bahawa beliau menulisnya sewaktu beliau berada di Makkah dan ada juga pendapat yang mengatakan bahawa beliau menulisnya ketika berada di Iraq.&lt;br /&gt;Kata Ahmad Muhammad Shakir : “Al-Shafi’I telah mengarang beberapa buah kitab yang jumlahnya agak besar, sebahagiannya beliau sendiri yang menulisnya, lalu dibacakannya kepada orang ramai. Sebahagiannya pula beliau merencanakannya sahaja kepada para sahabatnya. Untuk mengira bilangan kitab-kitabnya itu memanglah sukar kerana sebahagian besarnya telahpun hilang. Kitab-kitab itu telah dihasilkan penulisannya ketika beliau berada di Makkah, di Baghdad dan di Mesir”.&lt;br /&gt;Kalaulah keterangan di atas boleh dipertanggungjawabkan maka dapatlah kita membuat satu kesimpulan bahawa Al-Shafi’i telah memulakan siri penulisannya sewaktu beliau di Makkah lagi, dan kemungkinan kitabnya yang pertama yang dihasilkannya ialah kitab “Al-Risalah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hujjah Dan Kitab-kitab Mazhab Qadim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping “Al-Risalah” terdapat sebuah kitab lagi yang sering disebut-sebut oleh para ulama sebagai sebuah kitab yang mengandungi fatwa Mazhab Qadimnya iaitu “Al-Hujjah”. Pun keterangan mengenai kitab ini tidak menunjukkan bahawa ia adalah kitab pertama yang di tulis di dala bidang Ilmu Fiqah semasa beliau berada di Iraq, dan masa penulisannya pun tidak begitu jelas. Menurut beberapa keterangan, beliau menghasilkannya sewaktu beliau berpindah ke negara itu pada kali keduanya, iaitu di antara tahun-tahun 195 – 197H.&lt;br /&gt;Bersama-sama “Al-Hujjah” itu terdapat beberapa buah kitab lain di dalam Ilmu Fiqah yang beliau hasilkan sendiri penulisannya atau beliau merencanakannya kepada para sahabatnya di Iraq, antaranya seperti kitab-kitab berikut :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Amali&lt;br /&gt;2. Majma’ al-Kafi&lt;br /&gt;3. ‘Uyun al-Masa’il&lt;br /&gt;4. Al-Bahr al-Muhit&lt;br /&gt;5. Kitab al-Sunan&lt;br /&gt;6. Kitab al-Taharah&lt;br /&gt;7. Kitab al-Solah&lt;br /&gt;8. Kitab al-Zakah&lt;br /&gt;9. Kitab al-Siam&lt;br /&gt;10. Kitab al-Haj&lt;br /&gt;11. Bitab al-I’tikaf&lt;br /&gt;12. Kitab al-Buyu’&lt;br /&gt;13. Kitab al-Rahn&lt;br /&gt;14. Kitab al-Ijarah&lt;br /&gt;15. Kitab al-Nikah&lt;br /&gt;16. Kitab al-Talaq&lt;br /&gt;17. Kitab al-Sadaq&lt;br /&gt;18. Kitab al-Zihar&lt;br /&gt;19. Kitab al-Ila’&lt;br /&gt;20. Kitab al-Li’an&lt;br /&gt;21. Kitab al-Jirahat&lt;br /&gt;22. Kitab al-Hudud&lt;br /&gt;23. Kitab al-Siyar&lt;br /&gt;24. Kitab al-Qadaya&lt;br /&gt;25. Kitab Qital ahl al-Baghyi&lt;br /&gt;26. Kitab al-‘Itq dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah perawi pula telah menyebut bahawa kitab pertama yang dihasilkan oleh Al-Shafi’i adalah di dalam bentuk jawapan dan perdebatan, iaitu satu penulisan yang dituju khas kepada fuqaha’ ahl al-Ra’y sebagai menjawab kecaman-kecaman mereka terhadap Malik dan fuqaha’ Al-Madinah. Kenyataan mereka ini berdasarkan kepada riwayat Al-Buwaiti : “Kata Al-Shafi’i : Ashab Al-Hadith (pengikut Imam Malik) telah berhimpun bersama-sama saya. Mereka telah meminta saya menulis satu jawapan terhadap kitab Abu Hanifah. Saya menjawab bahawa saya belum lagi mengetahui pendapat mereka, berilah peluang supaya dapat saya melihat kitab-kitab mereka. Lantas saya meminta supaya disalinkan kitab-kitab itu.Lalu disalin kitab-kitab Muhammad bin Al-Hasan untuk (bacaan) saya. Saya membacanya selama setahun sehingga saya dapat menghafazkan kesemuanya. Kemudian barulah saya menulis kitab saya di Baghdad.&lt;br /&gt;Kalaulah berdasarkan kepada keterangan di atas, maka kita pertama yang dihasilkan oleh Al-Shafi’i semasa beliau di Iraq ialah sebuah kitab dalam bentuk jawapan dan perdebatan, dan cara penulisannya adalah sama dengan cara penulisan ahl al-Ra’y. Ini juga menunjukkan bahawa masa penulisannya itu lebih awal dari masa penulisan kitab “Al-Risalah”, iaitu di antara tahun-tahun 184 – 186H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Method Penulisan Kitab-Kitab Qadim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung dengan method penulisan kitab “Al-Hujjah” dan lain-lain belum dapat kita pastikan dengan yakin kerana sikap asalnya tida kita temui, kemungkinan masih lagi ada naskah asalnya dan kemungkinan juga ianya sudah hilang atau rosak dimakan zaman. Walaubagaimanapun ia tidak terkeluar – ini hanya satu kemungkinan sahaja – dari method penulisan zamannya yang dipengaruhi dengan aliran pertentangan mazhab-mazhab fuqaha’ di dalam beberapa masalah, umpamanya pertentangan yang berlaku di antara mazhab beliau dengan Mazhab Hanafi da juga Mazhab Maliki. Keadaan ini dapat kita lihat dalam penulisan kitab “Al-Um” yang pada asalnya adalah kumpulan dari beberapa buah kitab Mazhab Qadimnya. Setiap kitab itu masing-masing membawa tajuknya yang tersendiri, kemudian kita itu pula dipecahkan kepada bab-bab kecil yang juga mempunyai tajuk-tajuk yang tersendiri. Di dalam setiap bab ini dimuatkan dengan segala macam masalah fiqah yang tunduk kepada tajuk besar iaitu tajuk bagi sesuatu kitab, umpamanya kitab “Al-Taharah”, ia mengandungi tiga puluh tujuh tajuk bab kecil, kesemua kandungan bab-bab itu ada kaitannya dengan Kitab “Al-Taharah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawi Mazhab Qadim&lt;br /&gt;Ramai di antara para sahabatnya di Iraq yang meriwayat fatwa qadimnya, di antara mereka yang termasyhur hanya empat orang sahaja :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abu Thaur, Ibrahim bin Khalid yang wafat pada tahun 240H.&lt;br /&gt;2. Al-Za’farani, Al-Hasan bin Muhammad bin Sabah yang wafat pada tahun 260H.&lt;br /&gt;3. Al-Karabisi, Al-Husain bin ‘Ali bin Yazid, Abu ‘Ali yang wafat pada tahun 245H.&lt;br /&gt;4. Ahmad bin Hanbal yang wafat pada tahun 241H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Asnawi, Al-Shafi’i adalah ‘ulama’ pertama yang hasil penulisannya meliputi banyak bab di dalam Ilmu Fiqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perombakan Semula Kitab-kitab Qadim&lt;br /&gt;Perpindahan beliau ke Mesir pada tahun 199H menyebabkan berlakunya satu rombakan besar terhadap fatwa lamanya. Perombakan ini adalah berpunca dari penemuan beliau dengan dalil-dalil baru yang belum ditemuinya selama ini, atau kerana beliau mendapati hadis-hadis yang sahih yang tidak sampai ke pengetahuannya ketika beliau menulis kitab-kitab qadimnya, atau kerana hadis-hadis itu terbukti sahihnya sewaktu beliau berada di Mesir sesudah kesahihannya selama ini tidak beliau ketahui. Lalu dengan kerana itu beliau telah menolak sebahagian besar fatwa lamanya dengan berdasarkan kepada prinsipnya : “Apabila ditemui sesebuah hadis yang sahih maka itulah Mazhab saya”.&lt;br /&gt;Di dalam kitab “Manaqib Al-Shafi’i”, Al-Baihaqi telah menyentuh nama beberapa buah kitab lama (Mazhab Qadim) yang disemak semula oleh Al-Shafi’i dan diubah sebahagian fatwanya, di antara kitab-kitab itu ialah :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Risalah&lt;br /&gt;2. Kitab al-Siyam&lt;br /&gt;3. Kitab al-Sadaq&lt;br /&gt;4. Kitab al-Hudud&lt;br /&gt;5. Kitab al-Rahn al-Saghir&lt;br /&gt;6. Kitab al-Ijarah&lt;br /&gt;7. Kitab al-Jana’iz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Baihaqi lagi Al-shafi’i telah menyuruh supaya dibakar kitab-kitab lamanya yang mana fatwa ijtihadnya telah diubah.&lt;br /&gt;Catatan Al-Baihaqi itu menunjukkan bahawa Al-Shafi’i melarang para sahabatnya meriwayat pendapat-pendapat lamanya yang ditolak kepada orang ramai. Walaupun begitu kita masih menemui pendapat-pendapat itu berkecamuk di sana-sini di dalam kitab-kitab fuqaha’ mazhabnya samada kitab-kitab yang ditulis fuqaha’ yang terdahulu atau pun fuqaha’ yang terkemudian. Kemungkinan hal ini berlaku dengan kerana kitab-kitab lamanya yang diriwayatkan oleh Al-Za’farani, Al-Karabisi dan lain-lain sudah tersebar dengan luasnya di Iraq dan diketahui umum, terutamanya di kalangan ulama dan mereka yang menerima pendapat-pendapatnya itu tidak mengetahui larangan beliau itu.&lt;br /&gt;Para fuqaha’ itu bukan sahaja mencatat pendapat-pendapat lamanya di dalam penulisan mereka, malah menurut Al-Nawawi ada di antara mereka yang berani mentarjihkan pendapat-pendapat itu apabila mereka mendapatinya disokong oleh hadis-hadis yang sahih.&lt;br /&gt;Pentarjihan mereka ini tidak pula dianggap menentangi kehendak Al-Shafi’i, malahan itulah pendapat mazhabnya yang berdasarkan kepada prinsipnya : “Apabila ditemui sesebuah hadis yang sahih maka itulah mazhab saya”.&lt;br /&gt;Tetapi apabila sesuatu pendapat lamanya itu tidak disokong oleh hadis yang sahih kita akan menemui dua sikap di kalangan fuqaha’ Mazhab Al-Shafi’i :-&lt;br /&gt;Pertamanya : Pendapat itu harus dipilih dan digunakan oleh seseorang mujtahid Mazhab Al-Shafi’i atas dasar ia adalah pendapat Al-Shafi’i yang tidak dimansuhkan olehnya, kerana seseorang mujtahid (seperti Al-Shafi’i) apabila ia mengeluarkan pendapat barumya yang bercanggah dengan pendapat lamanya tidaklah bererti bahawa ia telah menarik pendapat pertamanya, bahkan di dalam masalah itu dianggap mempunyai dua pendapatnya.&lt;br /&gt;Keduanya : Tidak harus ia memilih pendapat lama itu. Inilah pendapat jumhur fuqaha’ Mazhab Al-Shafi’i kerana pendapat lama dan baru adalah dua pendapatnya yang bertentangan yang mustahil dapat diselaraskan kedua-duanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab-kitab Mazhab Jadid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kitab-kitab yang beliau hasilkan penulisannya di Mesir atau beliau merencanakannya kepada para sahabatnya di sana ialah :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Al-Risalah. Kitab ini telah ditulis buat pertama kalinya sebelum beliau berpeindah ke Mesir.&lt;br /&gt;ii. Beberapa buah kitab di dalam hukum-hukum furu’ yang terkandung di dalam kitab “Al-Um”, seperti :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Di dalam bab Taharah :&lt;br /&gt;1. Kitab al-Wudu’&lt;br /&gt;2. Kitab al-Tayammum&lt;br /&gt;3. Kitab al-Taharah&lt;br /&gt;4. Kitab Masalah al-Mani&lt;br /&gt;5. Kitab al-Haid&lt;br /&gt;B) Di dalam bab Solah :&lt;br /&gt;6. Kitab Istiqbal al-Qiblah&lt;br /&gt;7. Kitab al-Imamah&lt;br /&gt;8. Kitab al-Jum’ah&lt;br /&gt;9. Kitab Solat al-Khauf&lt;br /&gt;10. Kitab Solat al-‘Aidain&lt;br /&gt;11. Kitab al-Khusuf&lt;br /&gt;12. Kitab al-Istisqa’&lt;br /&gt;13. Kitab Solat al-Tatawu’&lt;br /&gt;14. Al-Hukm fi Tarik al-Solah&lt;br /&gt;15. Kitab al-Jana’iz&lt;br /&gt;16. Kitab Ghasl al-Mayyit&lt;br /&gt;c) Di dalam bab Zakat :&lt;br /&gt;17. Kitab al-Zakah&lt;br /&gt;18. Kitab Zakat Mal al-Yatim&lt;br /&gt;19. Kitab Zakat al-Fitr&lt;br /&gt;20. Kitab Fard al-Zakah&lt;br /&gt;21. Kitab Qasm al-Sadaqat&lt;br /&gt;d) Di dalam bab Siyam (Puasa) :&lt;br /&gt;22. Kitab al-Siyam al-Kabir&lt;br /&gt;23. Kitab Saum al-Tatawu’&lt;br /&gt;24. Kitab al-I’tikaf&lt;br /&gt;e) Di dalam bab Haji :&lt;br /&gt;25. Kitab al-Manasik al-Kabir&lt;br /&gt;26. Mukhtasar al-Haj al-Kabir&lt;br /&gt;27. Mukhtasar al-Haj al-Saghir&lt;br /&gt;f) Di dalam bab Mu’amalat :&lt;br /&gt;28. Kitab al-Buyu’&lt;br /&gt;29. Kitab al-Sarf&lt;br /&gt;30. Kitab al-Salam&lt;br /&gt;31. Kitab al-Rahn al-Kabir&lt;br /&gt;32. Kitab al-Rahn al-Saghir&lt;br /&gt;33. Kitab al-Taflis&lt;br /&gt;34. Kitab al-Hajr wa Bulugh al-Saghir&lt;br /&gt;35. Kitab al-Sulh&lt;br /&gt;36. Kitab al-Istihqaq&lt;br /&gt;37. Kitab al-Himalah wa al-Kafalah&lt;br /&gt;38. Kitab al-Himalah wa al-Wakalah wa al-Sharikah&lt;br /&gt;39. Kitab al-Iqrar wa al-Mawahib&lt;br /&gt;40. Kitab al-Iqrar bi al-Hukm al-Zahir&lt;br /&gt;41. Kitab al-Iqrar al-Akh bi Akhihi&lt;br /&gt;42. Kitab al-‘Ariah&lt;br /&gt;43. Kitab al-Ghasb&lt;br /&gt;44. Kitab al-Shaf’ah&lt;br /&gt;g) Di dalam bab Ijarat (Sewa-menyewa) :&lt;br /&gt;45. Kitab al-Ijarah&lt;br /&gt;46. Kitab al-Ausat fi al-Ijarah&lt;br /&gt;47. Kitab al-Kara’ wa al-Ijarat&lt;br /&gt;48. Ikhtilaf al-Ajir wa al-Musta’jir&lt;br /&gt;49. Kitab Kara’ al-Ard&lt;br /&gt;50. Kara’ al-Dawab&lt;br /&gt;51. Kitab al-Muzara’ah&lt;br /&gt;52. Kitab al-Musaqah&lt;br /&gt;53. Kitab al-Qirad&lt;br /&gt;54. Kitab ‘Imarat al-Aradin wa Ihya’ al-Mawat&lt;br /&gt;h) Di dalam bab ‘Ataya (Hadiah-menghadiah) :&lt;br /&gt;55. Kitab al-Mawahib&lt;br /&gt;56. Kitab al-Ahbas&lt;br /&gt;57. Kitab al-‘Umra wa al-Ruqba&lt;br /&gt;i) Di dalam bab Wasaya (Wasiat) :&lt;br /&gt;58. Kitab al-Wasiat li al-Warith&lt;br /&gt;59. Kitab al-Wasaya fi al-‘Itq&lt;br /&gt;60. Kitab Taghyir al-Wasiah&lt;br /&gt;61. Kitab Sadaqat al-Hay’an al-Mayyit&lt;br /&gt;62. Kitab Wasiyat al-Hamil&lt;br /&gt;j) Di dalam bab Faraid dan lain-lain :&lt;br /&gt;63. Kitab al-Mawarith&lt;br /&gt;64. Kitab al-Wadi’ah&lt;br /&gt;65. Kitab al-Luqatah&lt;br /&gt;66. Kitab al-Laqit&lt;br /&gt;k) Di dalam bab Nikah :&lt;br /&gt;67. Kitab al-Ta’rid bi al-Khitbah&lt;br /&gt;68. Kitab Tahrim al-Jam’i&lt;br /&gt;69. Kitab al-Shighar&lt;br /&gt;70. Kitab al-Sadaq&lt;br /&gt;71. Kitab al-Walimah&lt;br /&gt;72. Kitab al-Qism&lt;br /&gt;73. Kitab Ibahat al-Talaq&lt;br /&gt;74. Kitab al-Raj’ah&lt;br /&gt;75. Kitab al-Khulu’ wa al-Nushuz&lt;br /&gt;76. Kitab al-Ila’&lt;br /&gt;77. Kitab al-Zihar&lt;br /&gt;78. Kitab al-Li’an&lt;br /&gt;79. Kitab al-‘Adad&lt;br /&gt;80. Kitab al-Istibra’&lt;br /&gt;81. Kitab al-Rada’&lt;br /&gt;82. Kitab al-Nafaqat&lt;br /&gt;l) Di dalam bab Jirah (Jenayah) :&lt;br /&gt;83. Kitab Jirah al-‘Amd&lt;br /&gt;84. Kitab Jirah al-Khata’ wa al-Diyat&lt;br /&gt;85. Kitab Istidam al-Safinatain&lt;br /&gt;86. Al-Jinayat ‘ala al-Janin&lt;br /&gt;87. Al-Jinayat ‘ala al-Walad&lt;br /&gt;88. Khata’ al-Tabib&lt;br /&gt;89. Jinayat al-Mu’allim&lt;br /&gt;90. Jinayat al-Baitar wa al-Hujjam&lt;br /&gt;91. Kitab al-Qasamah&lt;br /&gt;92. Saul al-Fuhl&lt;br /&gt;m) Di dalam bab Hudud :&lt;br /&gt;93. Kitab al-Hudud&lt;br /&gt;94. Kitab al-Qat’u fi al-Sariqah&lt;br /&gt;95. Qutta’ al-Tariq&lt;br /&gt;96. Sifat al-Nafy&lt;br /&gt;97. Kitab al-Murtad al-Kabir&lt;br /&gt;98. Kitab al-Murtad al-Saghir&lt;br /&gt;99. Al-Hukm fi al-Sahir&lt;br /&gt;100. Kitab Qital ahl al-Baghy&lt;br /&gt;n) Di dalam bab Siar dan Jihad :&lt;br /&gt;101. Kitab al-Jizyah&lt;br /&gt;102. Kitab al-Rad ‘ala Siyar al-Auza’i&lt;br /&gt;103. Kitab al-Rad ‘ala Siyar al-Waqidi&lt;br /&gt;104. Kitab Qital al-Mushrikin&lt;br /&gt;105. Kitab al-Asara wa al-Ghulul&lt;br /&gt;106. Kitab al-Sabq wa al-Ramy&lt;br /&gt;107. Kitab Qasm al-Fai’ wa al-Ghanimah&lt;br /&gt;o) Di dalam bab At’imah (Makan-makanan) :&lt;br /&gt;108. Kitab al-Ta’am wa al-Sharab&lt;br /&gt;109. Kitab al-Dahaya al-Kabir&lt;br /&gt;110. Kitab al-Dahaya al-Saghir&lt;br /&gt;111. Kitab al-Said wa al-Dhabaih&lt;br /&gt;112. Kitab Dhabaih Bani Israil&lt;br /&gt;113. Kitab al-Ashribah&lt;br /&gt;p) Di dalam bab Qadaya (Kehakiman) :&lt;br /&gt;114. Kitab Adab al-Qadi&lt;br /&gt;115. Kitab al-Shahadat&lt;br /&gt;116. Kitab al-Qada’ bi al-Yamin ma’a al-Shahid&lt;br /&gt;117. Kitab al-Da’wa wa al-Bayyinat&lt;br /&gt;118. Kitab al-Aqdiah&lt;br /&gt;119. Kitab al-Aiman wa al-Nudhur&lt;br /&gt;q) Di dalam bab ‘Itq (Pembebasan) dan lain-lain :&lt;br /&gt;120. Kitab al-‘Itq&lt;br /&gt;121. Kitab al-Qur’ah&lt;br /&gt;122. Kitab al-Bahirah wa al-Sa’ibah&lt;br /&gt;123. Kitab al-Wala’ wa al-Half&lt;br /&gt;124. Kitab al-Wala’ al-Saghir&lt;br /&gt;125. Kitab al-Mudabbir&lt;br /&gt;126. Kitab al-Mukatab&lt;br /&gt;127. Kitab ‘Itq Ummahat al-Aulad&lt;br /&gt;128. Kitab al-Shurut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping kitab-kitab di atas ada lagi kitab-kitab lain yang disenaraikan oleh al-Baihaqi sebagai kitab-kitab usul, tetapi ia juga mengandungi hukum-hukum furu’, seperti :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kitab Ikhtilaf al-Ahadith&lt;br /&gt;2. Kitab Jima’ al-Ilm&lt;br /&gt;3. Kitab Ibtal al-Istihsan&lt;br /&gt;4. Kitan Ahkam al-Qur’an&lt;br /&gt;5. Kitab Bayan Fard al-Lah, ‘Azza wa Jalla&lt;br /&gt;6. Kitab Sifat al-Amr wa al-Nahy&lt;br /&gt;7. Kitab Ikhtilaf Malik wa al-Shafi’i&lt;br /&gt;8. Kitab Ikhtilaf al-‘Iraqiyin&lt;br /&gt;9. Kitab al-Rad ‘ala Muhammad bin al-Hasan&lt;br /&gt;10. Kitab ‘Ali wa ‘Abdullah&lt;br /&gt;11. Kitab Fada’il Quraysh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah lagi kitab al-Shafi’i yang dihasilkannya dalam Ilmu Fiqah iaitu “al-Mabsut”. Kitab ini diperkenalkan oleh al-Baihaqi dan beliau menamakannya dengan “al-Mukhtasar al-Kabir wa al-Manthurat”, tetapi pada pendapat setengah ulama kemungkinan ia adalah kitab “al-Um”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-755440330354450507?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/755440330354450507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=755440330354450507' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/755440330354450507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/755440330354450507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2008/03/riwayat-hidup-imam-syafii.html' title='Riwayat Hidup Imam Syafi’i'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-2368521776802322550</id><published>2008-03-04T11:08:00.000-08:00</published><updated>2008-03-04T11:11:48.269-08:00</updated><title type='text'>Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah</title><content type='html'>Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah:  Mengajak Kembali ke Alquran dan Hadis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh ini dikenal sebagai imam, allamah, muhaqqiq, hafizh, ushuli, faqih, ahli nahwu, berotak cemerlang, dan banyak mengeluarkan karya. Nama lengkapnya Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’i, namun lebih dikenal dengan nama Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Kampung kelahirannya adalah Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Damsyq (Damaskus), Suriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat pendidikan intensif yang diberikan orangtuanya, Ibnul Qayyim pun tumbuh menjadi seorang yang dalam dan luas pengetahuan serta wawasannya. Terlebih ketika itu, bidang keilmuan sedang mengalami masa jaya dan para ulama pun masih hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayahnya, Ibnu Qayyim belajar ilmu faraidl karena sang ayah memang sangat menonjol dalam ilmu itu. Selain itu, dia belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab Al-Mulakhkhas li Abil Balqa’, kitab Al-Jurjaniyah, juga sebagian besar kitab Al-kafiyah was Syafiyah. Kepada Syaikh Majduddin at-Tunisi dia belajar satu bagian dari kitab Al-Muqarrib li Ibni Ushfur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cakupan bidang keilmuannya demikian luas. Misalnya saja dia pernah belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, ilmu fikih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ismail bin Muhammad al-Harraniy. Dia pun terkenal dalam pengetahuannya tentang mazhab-mazhab Salaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya dia bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H. Ketika itu, Ibnu Qayyim sedang pada awal masa mudanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya dia berkesempatan mereguk sumber ilmunya dari mata air yang luas. Pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan dia cerna benar-benar. Ibnul Qayyim pun amat mencintainya, sampai-sampai dia mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya. Ibnul Qayyim juga menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya yang bagus dan dapat diterima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua seakan tak terpisahkan. Keduanya pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama sambil didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak faedah besar yang dia petik selama berguru kepada tokoh kharismatik itu, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang supaya kembali kepada kitab Alquran dan sunnah Rasulullah, berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh as-Salafus Shalih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para ulama besar supaya dapat menyerap ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaannya terhadap ilmu tafsir tiada bandingnya. Pemahamannya terhadap ushuluddin mencapai puncaknya serta pengetahuannya mengenai hadis, makna hadis, pemahaman serta istinbath-istinbath rumitnya, sulit ditandingi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula, pengetahuannya di bidang ilmu suluk dan ilmu kalam-nya Ahli tasawuf, isyarat-isyarat mereka serta detail-detail mereka. Ibnu Qayyim memang amat menguasai terhadap berbagai bidang ilmu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu menunjukkan bahwa tokoh ini amat teguh pada prinsip, yakni bahwa "Baiknya perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada madzhab as-Salafus Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan syariah dari sumbernya yang jernih yaitu Kitabullah Al-Aziz serta sunah Rasulullah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun senantiasa berpegang pada ijtihad serta menjauhi taqlid. Diambilnya istinbath hukum berdasarkan petunjuk Alquran, sunnah nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para sahabat serta apa-apa yang disepakati oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan para imam fikih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu yang ada benar-benar telah dicurahkannya untuk mengajar, memberi fatwa, berdakwah dan berdialog. Karenanya, banyak tokoh-tokoh ternama adalah para muridnya. Mereka merupakan ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya: anak beliau sendiri bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Imam Al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab Al-Hambali Al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim juga merupakan seorang peneliti ulung. Dia mengambil semua ilmu dan segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan Mesir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian disusunnya kitab-kitab fikih, kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah tulisannya sangat banyaknya, dan keseluruhan kitab-kitabnya itu memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanya Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala pengetahuan ilmiah yang agung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa karya besarnya antara lain; Tahdzib Sunan Abi Daud, I’lam al-Muwaqqi’in an Rabbil Alamin, Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban, Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan, Bada I’ul Fawa’id, Amtsalul Quran, dan Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina Wajhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim al-Jauziyah, wafat pada malam Kamis, tanggal 13 Rajab tahun 751 Hijriyah. Setelah dishalatkan keesokan harinya usai shalat Dzuhur di Masjid Jami Besar Dimasyq (Al-Jami Al-Umawi), ulama ini dikuburkan di tanah pekuburan Al-Babus Shaghir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://www.republika.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-2368521776802322550?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/2368521776802322550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=2368521776802322550' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/2368521776802322550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/2368521776802322550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2008/03/imam-ibnu-al-qayyim-al-jauziyyah.html' title='Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2686761561369497434.post-5307624830121574420</id><published>2008-02-29T09:31:00.000-08:00</published><updated>2008-02-29T09:49:21.710-08:00</updated><title type='text'>PACARAN PIKIR LAGI, DEH!</title><content type='html'>Pacaran, sepertinya tlah dinobatkan oleh remaja saat ini sebagai satu2nya ekspresi cinta kpd lwn jenis. Otomatis ikatan baku syahwat ini sedikit byk mempengaruhi jalinan persahabatan cew-cow. Makin sulit ditemukan hubungan dekat remaja-remaji yg murni pertemanan. Selaluu aja ada benih2 cinta di hati yg tersemai tanpa mereka sadari. G heran klo byk remaja yg terprovokasi oleh komplotan Project Pop &amp; Chrisye dlm hits terbaru mreka, ‘burkat’Buruan d Katakan… Makanya Yovie &amp; Nuno jg g tahan tuk blg, ‘inginku…tak hny jd temanmu…ataupun sekadar sahabat’. Pengennya jd apa dong? Pacar. Yup, status pacar yg byk diburu kaum jomblo sbg simbol kemenangan &amp; kebanggaan. Begitu pentingnya status ini hinga dijadikan ‘mata pelajaran’rutin oleh media massa bagi para pemirsanya. Walhasil, para pelajar berseragam putih biru donker pun mjdkn tempat belaarnya sebagai Sekolah Mencari Pacar (SMP). Parah tenan iki!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Sobat, byk remaja yg ngerasa klo jd pacar ato pny pacar bikin hidup terasa lebih indah. Katanya c, mereka ud nemuin soulmate alias belahan jiwanya. Seseorg yg memanjakan perasaan cintanya; yg menjaga &amp; melindunginya; yg begitu perhatian &amp; peduli padanya; yg menyediakan a shoulder to cry on; yg mengulurkan tangannya saat salah satunya down; hingga rela berkorban tuk memenuhi permintaan sang buah hati. Pokoknya romantis abis! Selanjutnya, hari2 mreka lalui dgn kebersamaan. Acara jln bareng sambil gandengan tangan ato mojok berdua utk saling bertukar cerita jd menu wajib. Di kampus, sekolah, mal, halte, bioskop, ato di bwh guyuran hujan g masalah. Klo g bs jln brg, minimal mengobral kata2 cinta via SMS. Inilah penyakit org kasmaran. Enggan berpisah walo sesaat. Bawaannya kangen mulu. Padahal doinya Cuma permisi ke toilet. Waduh! Tp sobat, apa bener pacaran itu selamanya indah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYAK RUGI DI BALIK PACARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klo diperhatiin sekilas, bisa jadi org nganggap pacaran itu g ada ruginya. Padahal byk loh ruginya. Makanya jgn Cuma sekilas merhatiinnya. G percaya? Simak d poin2 brkt :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. RUGI WAKTU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat, coba kamu iseng2 nanya ke temen yg pacaran, brp byk waktu yg dia berikan tuk pacarnya?A. 1 jam B. 2 jam C. 1 hari D. 1 minggu (kayak soal ujian aja pake multiple choice). Jawabannya; g da yg cocok! Sebab ketika ikatan cinta di antara mereka diucapkan, masing2 kudu terima konsekuensi utk ngasih perhatian lebih buat sang pacar. Itu berarti, harus stand by alias siap setiap saat jka diperlukan doi (sopir taksi kaleee!). Ini yg bikin repot. Gimana g, waktu yg qt punya g Cuma buat ngurusin sang pacar. Emang c teorinya g sesktrim itu. Biasanya mereka mencoba saling mengerti klo kekasihnya jg pny kepentingan lain. Tp klo masing2 pgn dimengerti, bisa2 muncul sikap egois. Merasa dirinya paling penting &amp; paling berhak utk diperhatikan. Ending-nya, teori &amp; praktek sgt jauh panggang dari api. Tetep aja mereka terpaksa ngorbanin waktu utk sekolah, kantor, keluarga, ato teman sebaya biar doi g ngambek. Klo ud begini, demi mempertahankan pacaran, urusan lain bisa berantakan. Betul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. RUGI PIKIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehebat2nya manusia mengelola alokasi pikiran &amp; perhatian utk ngurusin hidupnya, blm tentu dia mampu mengendalikan rasa cintanya. Asli. Ktika qt jatuh cinta, g gampang qt mikirin urusan laen. Semua pikiran qt slalu mengerucut pd 1 objek : Pacar. Sperti kata Ratu: ’Aku mau makan...teringat kamu...Aku mau tidur jg kuingat kamu....lihat cheetah teringat padamu...’ Ups! Sorry, jgn ngerasa dipuji ya. Gubrak! G heran klo sitaan pikiran yg begitu besar dlm berpacaran bisa bikin prestasi belajar menurun. Itu jg bagi yg berprestasi. Bagi yg nilainya pas2an, bisa2 kebakaran tuh nilai rapot. Mereka sulit konsentrasi. Meski jasadnya ada dlm kelas blm tentu pikirannya nangkep penjelasan dari guru. Yg ada pikirannya tengah melanglang buana ke negeri khayalan bersama sang permaisuri pujaan hati. Dan g akan sadar sebelm spidol ato penghapus whiteboard mendarat sukses di jidatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. TERBIASA G JUJUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu. Klo qt ngeliat perilaku standar remaja yg lagi kasmaran. Di rumah dia lg uring2an krn sakit perut (tapi bukan diare lo), tapi akibat makan cabe tapi lupa makan goreng bakwannya krn saking asiknya nonton Dora the Explorer. Sang ibu pun terpaksa telpon ke sekolah minta izin. Menjelang siang, tiba2 pacar telpon. Nanyain kabar krn khawatir. Terus dia bilang, ’sayang ya kamu g sekolah. Padahal nanti siang aq minta diantar ke toko buku terus hadirin undangan temenku yg ultah di KFC...’ Tak lama berselang, keajaiban terjadi. Tiba2 sakitnya sembuh &amp; siap nganterin doi. Pdhl sebelum ditelpon pacarnya, sang ibu minta tolong dibeliin minyak tanah di warung sebelah rumah, jawabnya: ’g kuat jln Bu. Kan lg sakit. ’ Ini baru contoh kecil. Seringkali org pacaran secara otomatis berbohong, agar terlihat baik n perfect di mata pacar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. TEKOR MATERI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat, dlm berpacaran, keberadaan materi sgt menentukan mati hidupnya itu hubungan. Meski ngakunya g begitu mentingin materi, tetep aja klo nraktir bakso di kantin sekolah ato nonton hemat di twenty one kudu pake duit. Yg bikin runyam, kebanyakan dari remaja yg berpacaran perekonomiannya sgt Tergantung dgn jatah yg dikasih ortu. Pas lg ada duit, jatah uang saku sebulan ludes dlm hitungan jam di malam minggu pertama setiap bln. Klo lg g punya duit sementara pacar ngajak jalan, bisa nekat mereka. Nilep uang SPP ato terlibat aksi kriminal. Repot khan? Nah sobat, ternyata pacaran tak selamanya indah. Ada jg ruginya. Banyak malah. Rasanya g sebanding dong klo qt harus kehilangan waktu luang, prestasi belajar, teman sebaya ato kedekatan dgn keluarga, krn waktu, pikiran, tenaga, &amp;materi yg qt pny, byk dialokasikan utk sang pacar. Belum lg dosa yg qt tabung selama berpacaran. Pdhl pacar sendiri blm tentu bisa ngembaliin semua yg qt korbakan ktika qt kena PHK alias Putus Hubungan Kekasih. Apalagi ngasih jaminan qt selamat di akhirat. Nggak ada bgt tuh. Rugi kan? Pasti, gt loh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PACARAN, DILARANG MASUK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat muda muslim, meski dlm Al-Qurán tidak terdapat dalil yg jelas2 melarang pacaran, bukan berarti aktivitas baku syahwat itu diperbolehkan. Pacaran di-blacklist dari perilaku seorg muslim krn aktivitasnya, bukan istilahnya. Org pacaran pasti berdua2an. Pdhl mereka bukan mahram ato sumi-istri. Yg kayak gini yg dilarang Rasul dlm sabdanya; “Baransiapa beriman kpd Allah &amp; hari akhir, maka tdk blh baginya berkhalwat (berdua2an) dgn seorg wanita, sdgkn wanita itu tidak bersama mahramnya. Krn sesungguhnya yg ketiga di antara mereka adlh setan” (HR. Ahmad) Kehadiran pihak ke3 alias setan sering dicuekin oleh org yg lagi pacaran. Padahal bisikannya bisa bikin mereka gelap mata bin lupa diri. Cinta suci yg diikrarkan lambat laun ber-metamorfosis mjd cinta birahi. Ujung2nya mreka akan dgn mdh terhanyut dlm aktivitas KNPI alias Kissing, Necking, Petting, sampe intercousing. Dari sekadar ciuman hingga hubungan badan. Naudzubillah min dzalik! Makanya Allah Swt. Tlah mengingatkan dlm firmanNya: ”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adlh suatu perbuatan yg keji &amp; suatu jln yg buruk. (QS. Al-Isra(17): 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klo masih ngeyel dgn peringatan Allah Swt. di atas, dijamin kesengsaraan bakal menimpa qt. Banyak kok fakta yg berbicara klo gaya pacaran sekarang lebih didominasi oleh penyaluran hasrat seksual. Akibatnya, secara tidak lgsg pacaran turut membidani lahirnya masalah aborsi, prostitusi, hingga penyebaran penyakit menular seksual. Karena itu, pacaran dilarang masuk dlm keseharian seorg muslim. Akur? Kudu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGAR CINTA NGGAK BIKIN SENGSARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat, perlu dicatat klo Islam melarang pacaran bukan berarti memasung rasa cinta kepada lawan jenis. Justru Islam memuliakan rasa cinta itu jika penyalurannya tepat pada sasaran. Sebab Allah menciptakan rasa itu pada diri manusia dlm rgk melestarikan jenisnya dgn kejelasan nasab alias garis keturunan. Krn itu hny dicontohkan Rasulullah, &amp; pastinya tepat pd sasaran. Yaitu melalui pernikahan. Rasulullah SAW bersabda: ”Wahai sekalian pemuda, brgsiapa yg sudah mempunyai bekal utk menikah, menikahlah. Krn sesungguhnya pernikahan itu dpt memejamkan mata &amp; memelihara kemaluan. Dan brgsiapa yg blm mempunyai bekal utk menikah, berpuasalah, krn puasa itu sbg bentengnya.”( HR. Bukhari &amp; Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utk mengendalikan rasa cinta pd diri manusia, Islam jg pny aturan maen yg meminimalisasi faktor2 pembangkit rasa itu. Secara umum, interaksi atr pria &amp; wanita dlm Islam hny diperbolehkan dlm aktivitas yg mengharuskan kerjasama di atr mereka. Seperti ketika jual beli di pasar, berobat ke dokter, belajar di sekolah ato kampus, bekerja di kantor, dsb. Dgn catatan, ketika aktivitas di atas selesai, maka masing2 kudu kembali ke habitatnya. Nggak pake acara curi2 kesempatan berduaan sehabis sekolah bubar, mau pergi ke pasar, ato pas berangkat kerja. Klo pas lg ada keperluan mendesak dgn lwn jenis, qt bisa ajak teman biar g berduaan. Selain itu qt jg diwajibkan menjaga pandangan biar g jelalatan ketika bertemu dgn lwn jenis. Sebab jika pandangan qt terkunci, sulit mengalihkannya. Seperti kata A. Rafiq, ’lirikan matamu...menarik hati...’ G ketinggalan, Islam jg mewajibkan muslimahnya utk menutup aurat secara sempurna &amp; menjaga suaranya agar tdk mendesah bin mendayu2 ketika berkomunikasi dgn lawan jenisnya. Sebab bisa memancing lawan jenis utk berinteraksi lebih jauh. Wah, disinilah perlu jaga2 ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat muda muslim, selain dosa, ternyata pacaran jg byk ruginya. Makanya klo virus merah jambu mulai meradang di hatimu, Cuma ada 1 solusi jitu; merit binti menikah. G papa koq masih muda jg. Tapi klo ngerasa blm mampu, kamu bs rajin2 berpuasa utk meredam gejolak nafsu. Dan tentunya sambil terus belajar, mengasah kemampuan, &amp; mengenali Islam lebih dlm, jgn lupa perbyk kegiatan positif. Ngaji &amp; olahraga misalnya. Moga qt sukses di dunia wal akhirat ya. Mau kan? Mau doooooong! Siip dah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ Hafidz]---&gt; From Buletin STUDIA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2686761561369497434-5307624830121574420?l=suarapemudaislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/feeds/5307624830121574420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2686761561369497434&amp;postID=5307624830121574420' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/5307624830121574420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2686761561369497434/posts/default/5307624830121574420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarapemudaislam.blogspot.com/2008/02/pacaran-pikir-lagi-deh.html' title='PACARAN PIKIR LAGI, DEH!'/><author><name>Addien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-6lPinbYzPpU/TzG9qGenoXI/AAAAAAAAAcs/t4op74mDjRs/s220/24092011415.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
